Unika Santu Paulus Ruteng Mengadakan Seminar Psiko Spiritual No Free Sex and Abortion

Ruteng, gardantt.id – Unika Santu Paulus Ruteng mengadakan seminar Psiko Spiritual No Free Sex and Abortion yang dilaksanakan di Gut Lantai 5, Jumat (17/03/2023) Sore.

Kegiatan seminar ini melibatkan perwakilan mahasiswa-mahasiswi dari semua prodi yang ada di Unika Santu Paulus Ruteng (Setiap prodi mengirim 100 orang).

Ferry Liu salah satu Narasumber dari Tim PMPPKN (Persekutuan  Mahasiswa Pemuda Pelajar Kristiani Nasional) mengungkapkan isi dari kegiatan serta tujuan diadakan seminar tersebut.

“Kegiatan ini merupakan suatu kegiatan sosialisasi terkait bahayanya Free Sex dan Aborsi yang khususnya untuk di kalangan muda. Kami orang-orang yang masuk dalam PMPPKN  ini memang punya satu Kerinduan untuk kami bisa melihat bahwa generasi muda hari-hari ini  benar-benar dapat dipakai Tuhan, jadi berkat bagi orang lain agar  di mana pun setiap mereka ada  dapat menjadi dampak, memberi dampak positif bagi kota tentunya, kalau di tempat ini  kampusnya sehingga ada suatu perubahan yang terjadi di kota dan di kampus,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan kerja samanya kampus Unika dan Tim mereka dalam  kegiatan seminar yang di dakan tersebut.

“Yang menyelenggarakan dari pihak kampus yang bekerja sama dengan kami sebagai tim PMPPKN. Memang kami sudah cukup mengenal lama dari tahun 2017 dan kami suka melakukan kegiatan-kegiatan kerohanian untuk meningkatkan atau memberikan suatu informasi terkait Free Sex dan Aborsi ini,” imbuhnya.

Selanjutnya Ferry  menjelaskan kegiatan  yang akan di angkat dalam seminar tersebut.

“Tentu kami kalau bicara apa yang kami angkat pada waktu kami datang mengadakan kegiatan ini maka sudah pasti  Kami mau mengangkat bahwa sebenarnya adik-adik kita khususnya kalangan perempuan di sini mereka itu bukan orang yang kaum lemah, yang bukan hanya sekedar bisa dimanfaatkan oleh laki-laki atau orang yang lebih kuat, orang yang lebih mampu, dan orang yang punya kedudukan. Tetapi kami mengangkat bahwa khususnya wanita mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan dan mereka adalah orang yang Tuhan tetapkan untuk mereka bisa menjadi penolong baik laki-laki, khususnya mungkin orang yang berpengaruh di sini atau mungkin orang yang punya pendidikan yang lebih baik dan yangg lain tentunya. Sehingga porsi dari laki-laki dan perempuan itu dapat sama-sama saling dihargai,” tuturnya.

“Kegiatan ini diadakan  sejujur-jujurnya kami mau  bilang bahwa sebenarnya kami sudah tahu kondisi di ruteng ini dalam suatu kondisi yang sangat kritis dalam hal  free sex dan aborsi. Kami sudah melihat  di beberapa media sudah dimuat  terjadinya free sex  di kalangan muda, khususnya mereka yang mahasiswa dan pelajar dan juga tidak sedikit mereka yang sudah melakukan aborsi. Mereka kehilangan masa depan. Untuk itu kami datang di sini supaya  membuat suatu perubahan bagi teman-teman disini. Harapan Kami cuma satu yaitu Kami mau bahwa khususnya umat Kristen orang Katolik mereka punya kesadaran untuk  mempunyai suatu keberanian dalam membuat suatu perubahan itu sendiri, bukan hanya buat diri dia tetapi sebagai pertanggungjawaban dia sama Tuhan,” jelasnya.

Ferry Liu mengungkapkan inti dari materi yang mereka bawakan.

“Inti dari materi yang kami bawakan dari hari pertama sampai hari ini itu tetap sama yaitu Bahaya Free Sex dan Aborsi. Jadi kami belum ada satu perubahan karena memang ini yang harus kita lakukan hari-hari ini,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan kesan saat diadakan selama kegiatan seminar tersebut

“Saya sangat terkesan mulai dari  hari pertama hingga hari ini karena anak-anak di Unika ini adalah mahasiswa yang baik, orang yang  pengen punya harapan. Selain itu mahasiswa di sini juga cukup ramah dan punya keberanian. Di beberapa kampus Kami jarang melihat bahwa orang-orang di kampus tertentu khususnya di Jawa jarang untuk berani bertanya tapi kalau di sini kami lihat banyak mahasiswa yang bertanya. Setiap pertemuan banyak pertanyaan dan itu sudah menjadi pembelajaran buat kami untuk mengetahui kondisi  Ruteng ini seperti apa.” tambahnya.

Frans Laka Lazar, SVD, M.Sc, juga mengungkapkan  kegiatan seminar tersebut sangat penting bagi mahasiswa/i Unika St. Paulus Ruteng.

“Pihak kampus menyelenggarakan kegiatan ini karena dirasa penting dan membantu mahasiswa untuk memahami tentang kekerasan seksual yang lagi marak terjadi diberbagai tempat termasuk di kampus-kampus perguruan tinggi, sex bebas dan aborsi yang juga banyak terjadi di kalangan kaum muda. Kegiatan ini juga memberikan pencerahan kepada mahasiswa agar mereka tahu mengontrol dan menguasai diri dalam pergaulan dan menghargai kehidupan, dan mencegah terjadi kekerasan di kampus,” ungkapnya.

Pater Frans menyampaikan harpannya terhadap mahasiswa/i Unika St. Paulus Ruteng.

“Harapan saya agar mahasiswa semakin cerdas dan bijaksana dalam pergaulan agar tidak terjadi ssex bebas dan tidak melakukan aborsi, apalagi kebanyakan mahasiswa tinggal di kos-kos. Dalam kaitan dengan kekersan seksual, semoga mahasiswa tidak segan-segan melaporkan peristiwa kekerasan seksual yang terjadi di kampus atau mencegah agar kekerasan seksual itu tidak terjadi di lingkungan kampus,” imbuhnya.

Oliva Jelita Gabu salah satu mahasiswi yang ikut dalam seminar tersebut juga menyampaikan kesan yang dirasakan.

“Kesan yang saya dapat dalam kegiatan seminar pada sore ini sungguh menyenangkan dan luar biasa terhadap materi yang dipaparkan oleh narasumber  dan banyak hal yang saya dapati dari seminar tersebut bahwa pentingnya untuk menghindari  free Sex dan Aborsi,”ungkap mahasiswi asal Pahar tersebut.

Informasi yang diperoleh media ini, seminar yang berlangsung sejak tanggal 14 – 17 Maret 2023, menghadirkan 6 orang narasumber yaitu Evi Yusniar, Ferry Liu, Sarlyna Bantaika, Fransiskus Laka Lazar, Nur Dafiq dan Ignatius Pepy Bora.

Desa Haju