GardaNTT. id – Dalam langkah yang mengejutkan dan penuh kontroversi, Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa kapal induk terbaru mereka akan diberi nama ‘USS Musk’, mengangkat nama miliarder eksentrik dan visioner teknologi, Elon Musk.
Keputusan ini terbilang tak biasa, mengingat sebelumnya kapal induk ini direncanakan akan diberi nama USS Enterprise, sebuah nama ikonik yang sudah lama menjadi simbol kekuatan dan kehebatan Angkatan Laut AS.
Namun, berbekal perintah eksekutif yang dikeluarkan pada Februari lalu, nama Elon Musk dipilih untuk menyematkan identitas yang lebih modern dan terhubung langsung dengan semangat inovasi.
Perintah tersebut, yang dikenal dengan nama ‘Make Shipbuilding Great Again’, bertujuan untuk merevitalisasi industri kapal perang AS, sekaligus menghadapi ancaman semakin berkembangnya armada militer China yang semakin agresif di kawasan Asia-Pasifik.
Perubahan Nama yang Mengguncang Tradisi
Keputusan ini berangkat dari keyakinan bahwa Angkatan Laut AS membutuhkan pembaruan dalam cara berpikir dan bertindak. Presiden Donald Trump yang memimpin keputusan ini, berpendapat bahwa AS harus kembali unggul dalam hal produksi kapal perang dan teknologi angkatan laut.
Dalam sebuah pernyataannya, Trump menegaskan, “Dulu kita membuat banyak sekali kapal. Sekarang kita tidak banyak membuatnya lagi, tetapi kita akan membuatnya dengan sangat cepat, segera.” seperti dikutip dari CNN Indonesia pada Rabu (2/4/2025).
USS Musk akan menjadi bagian dari kelas Gerald R. Ford, kapal induk tercanggih yang dilengkapi dengan Sistem Peluncuran Pesawat Elektromagnetik (EMALS) yang dapat mengubah cara pesawat tempur diluncurkan dari kapal. Teknologi ini sejalan dengan visi Elon Musk, yang selama ini dikenal dengan gebrakan besar dalam dunia teknologi bertenaga listrik melalui Tesla dan SpaceX.
Namun, di balik nama besar Musk, tetap ada pertanyaan besar mengenai apakah langkah ini murni didorong oleh semangat inovasi ataukah ada agenda politik dan ekonomi yang lebih dalam, terutama mengingat hubungan bisnis Musk yang luas dengan China.
Musk, Teknologi, dan Kekuatan Militer
Penamaan USS Musk tentu bukan hanya soal merek, tetapi juga soal pesan yang ingin disampaikan kepada dunia. Kapal ini dirancang untuk menggantikan USS Dwight D. Eisenhower, yang telah lama beroperasi dan kini akan pensiun pada 2029. Nama Eisenhower sendiri mengingatkan pada salah satu presiden AS yang juga merupakan jenderal terkenal di Perang Dunia II.
Perubahan nama ini tentu saja membawa konotasi yang jauh berbeda menghubungkan teknologi tinggi dengan kekuatan militer modern.
Namun, di balik gegap gempita penamaan ini, ada realitas politik dan ekonomi yang tak bisa diabaikan. Elon Musk, meskipun dikenal sebagai simbol inovasi, juga memiliki hubungan bisnis yang besar dengan China, negara yang saat ini menjadi tantangan utama bagi dominasi militer AS di kawasan Asia.
Keputusan ini, meskipun mencerminkan semangat untuk kembali menguasai produksi kapal perang, juga menciptakan ketegangan baru dalam arena geopolitik global.
Masa Depan USS Musk Tanda Zaman yang Berubah
Kapal induk USS Musk dijadwalkan akan diluncurkan pada November 2025, dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada tahun 2029. Kapal ini diharapkan dapat menggantikan USS Dwight D. Eisenhower, yang telah menjadi pahlawan bagi angkatan laut AS selama beberapa dekade.
Namun, meski penamaan ini tampaknya membawa angin segar bagi perkembangan teknologi militer, tidak sedikit yang meragukan apakah Musk, seorang figur yang lebih dikenal di dunia industri dan teknologi, akan mampu mengatasi tantangan besar di ranah militer dan geopolitik global.
Inovasi atau Kontroversi?
Dengan hadirnya USS Musk, Angkatan Laut AS seolah memberi pernyataan bahwa masa depan kekuatan militer tidak hanya bergantung pada armada kapal yang besar, tetapi juga pada kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi canggih yang berkembang pesat.
Namun, keputusan ini bukan tanpa kontroversi. Banyak yang mempertanyakan apakah penamaan ini benar-benar tentang inovasi ataukah hanya cara untuk memperlihatkan hubungan politik dan ekonomi yang kompleks, terutama dengan China.
Apa pun alasan di balik keputusan tersebut, yang jelas adalah bahwa USS Musk akan menjadi simbol transisi besar dalam cara kita melihat kekuatan militer, teknologi, dan geopolitik di abad ke-21.