Budidaya Jahe, Sumber Hidup Baru Masyarakat Lolang, Satar Mese

Tim dari Dinas Pertanian sedang memantau lahan jahe milik Hendrikus Tamu

Manggarai, GardaNTT.idKondisi ekonomi semakin melemah semasa pandemi Covid-19, tidak menyurut niat dari pria asal Lolang, Satar Mese bernama Hendrikus Tamu untuk selalu berinovasi melalui upaya bercocok tanam.

Memiliki dasar sebagai petani palawija, perangkat desa asal kampung Bangka, Desa Lolang, Kecamatan Satar Mese, selalu menghabiskan sisa waktunya usai berkantor di kebun jahe miliknya maupun milik kelompok tani binaannya di wilayah itu.

Kini pria yang kerab disapa Hendrik itu memiliki lahan jahe seluas 4 hektar. Ia menanam sejak dua tahun lalu dengan pola pertanian tumpang sari.

Hendrik Tamu, Petani Jahe Asal Lolang

Saat panen perdana, kata Hendrik, hasilnya di bagikan rata ke keluarganya untuk dijadikan bibit.

“Panen pertama saya bagian ke semua anggota keluarga, hal ini bertujuan untuk pemberdayaan keluarga, saya bagi benihnya sesuai kemampuan lahan saja, ada yang 100 kilo untuk 1 keluarga bahkan ada yang saya kasi 300 kilo secara cuma cuma,” ungkap Hendrik kepada media ini dikediamannya di desa Lolang, Kamis (24/02)

Pembagian jahe ke keluarganya, kata dia, bertujuan untuk pemberdayaan dan menunjukan keseriusannya dalam menata ekonomi keluarga.

“Saya bagi dengan bertujuan untuk sama sama menanam, kita cuma bantu benihnya saja, sedangkan pola kerjanya biarkan mereka sendiri dan hasilnya nanti untuk mereka sendiri juga, lagian menanam jahe ini cukup mudah,” ungkap Hendrik.

Memilih Budidaya Jahe

Hendrik menjelaskan, memilih budidaya jahe dikarenakan prosesnya sangat mudah dan cepat mendatangkan hasil.

“Pilihan budidaya jahe kerena sangat mudah dan sangat cocok tanam di daerah kita, kemudian dalam perawatannya sangat mudah,” ungkap Hendrik.

Lahan Jahe Milik Hendrikus Tamu

Ia menambahkan, sistem pertanian yang dilakukan selama ini berupa pola tanam tumpang sari, karena menurut pria yang selalu tampil sederhana itu, pola ini sangat efisien untuk petani yang lahannya terbatas.

“Pola tanam selama ini berupa sistem tumpang sari. Sistem tumpang sari ini maksudnya, dalam satu perkebunan terdiri dari, tanaman jahe, porang, kacang tanah dan jagung, sedangkan tanaman jangka panjang seperti tanaman pala, cara ini cukup efisien bagi kami yang kekurangan lahan,” jelas Hendrik.

Hendrik juga sedang berupaya tanaman jahe miliknya tersertifikasi benih unggul oleh dinas terkait.

“Pegawai dari dinas pertanian kabupaten Manggarai dan dinas pertanian Propinsi sudah pernah kesini dalam rangka pengambilan sampel benih jahe untuk di uji dalam rangka tersertifikasi benih lokal,” ungkap Hendrik

Menurutnya, dengan tersertifikasi benih lokal miliknya, masyarakat Manggarai tidak kewalahan dalam mencari benih jahe unggul atau yang berlabel.

“Semoga saja lolos di uji dan dapat tersertifikasi, berharap bisa menyaingi bibit jahe dari daerah lain, dan tidak ada lagi pasokan benih yang berlabel dari luar daerah,” ungkap Hendrik.

Selain konsentrasi memproduksi bibit jahe yang unggul, konsep lain ke depan yang akan di buat adalah memproduksi sari jahe yang berlabel.

“Rencana ke depan bersama kelompok tani binaan akan memproduksi sari jahe yang berlabel untuk di jual,” ungkap Hendrik.

Hendrik berharap, adanya intervensi pemerintah dalam upaya peningkatan kapasitas dan mefasilitasi kelompok binaannya.

“Saya berharap adanya perhatian dari pemerintah terkait pengadaan mesin pengolahan sari jahe, sesuai konsentrasi bersama kami kelompok binaan,” tutup Hendrik