Dosen ITB Kritik Pariwisata Indonesia: Uang Hilang, Lingkungan Rusak, Wisatawan Tak Datang

foto: ilustrasi wisata

Jakarta, gardantt.id-Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Twitter @sociotalker pada Jumat, 16 Juni 2023 lalu, Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ahli dalam bidang perencanaan wilayah dan tata kota, Myra P Gunawan, menyampaikan kritik terhadap industri pariwisata di Indonesia. Myra juga menyoroti jumlah wisatawan yang tidak sesuai dengan target yang ditetapkan.

Beberapa kritik yang diungkapkan oleh Myra sebagai seorang pakar pariwisata antara lain terkait dengan naskah akademis, transparansi biaya, dan dampak lingkungan. Pada acara kerja sama antara Neraca Ruang dan Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB pada 23 Mei 2023 lalu, Myra mempertanyakan beberapa hal terkait dengan hal tersebut.

Myra P Gunawan adalah seorang akademisi dan dosen ITB yang sudah meneliti industri pariwisata di Indonesia selama 30 tahun. Ia juga merupakan seorang pakar dalam bidang pariwisata.

Dosen ITB sebut uang untuk infrastruktur hilang, lingkungan terdampak

Myra P Gunawan mengambil contoh destinasi wisata Wakatobi yang pembangunan infrastrukturnya melesat. Kepala daerah setempat disebut sangat antusias dengan ide mendatangkan 500.000 wisatawan ke kawasan di Sulawesi Tenggara tersebut.

“Pemerintah mengatakan kita ingin 500.000 wisatawan mancanegara ke Wakatobi. Perkembangannya dalam 10 tahun terakhir, hanya 23.000, bagaimana bisa nyulap dari 23.000 menjadi 500 (ribu)?” tuturnya.

Sementara itu, ide destinasi wisata prioritas didukung Peraturan Presiden (Perpres) yang beberapa waktu lalu dirilis. Tapi, dalam pandangan Myra, pembangunan besar-besaran itu hanya menyisakan lingkungan yang rusak di saat wisatawan yang datang tidak memenuhi target atau keinginan pemerintah.

“Ide tentang 500.000 (wisatawan asing) mudah sekali ditangkap oleh kepala daerah dan juga oleh para pendukung, itu artinya, keluarkan Perpres bahwa semua kementerian harus mendukung destinasi pariwisata prioritas,” tuturnya.

“Yang dibangun adalah infrastruktur besar-besaran, berceceran di taman nasional, di perairan yang tidak terpakai atau tidak bisa dipakai. Uang hilang, lingkungan rusak, wisatawan tidak datang. Tak pernah ada yang menghitung,” katanya lagi.

Modal dan utang pembangunan destinasi wisata super prioritas tak pernah diumumkan

Myra P Gunawan menyebut pengelolaan destinasi wisata tidak serta merta menyandingkan biaya pembangunan, utang, dan pendapatan. Dalam pandangannya, hanya pendapatan yang sering diumumkan ke publik.

“Seperti kita membangun Mandalika, yang diinfokan kan jumlah penontonnya, karcisnya, sekian kali sekian, (tapi) membangunnya (membutuhkan biaya) berapa, utangnya berapa, tidak pernah diomongin, tidak pernah disandingkan (datanya). Udah balik modal, gitu? Saya yakin, belum,” katanya.

Hal sama berlaku pada upaya mendatangkan wisatawan mancanegara tersebut. Menurut Myra, pemerintah tidak mengumumkan ke publik bahwa di balik semua itu, ada biaya lain yang harus dikeluarkan.

“Karena yang dihitungnya itu yang diterima, (tapi) yang dikeluarkan untuk mendatangkan mereka (wisatawan mancanegara) berapa, nggak pernah dihitung, nggak pernah diinfokan,” ucapnya.***

Sumber: Pikiranrakyat.com