Eksplorasi Lefa Nuang, Begini Tanggapan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Lembata

Perayaan Ekaristi Pembukaan Lefa Nuang (Foto: Guna Tapoona

Lembata, GardaNTT.id – “Ketika flayer eksplorasi lefa nuang diviralkan, saya “sengaja” membiarkan. Supaya kami bisa tau dan rekam semua reaksi publik, khususnya masyarakat Lamalera yang punya lefa nuang. Sehingga dari dinamika ini, dinas bisa tau dan memenuhi kebutuhan apa yang diharapkan oleh publik, terutama masyarakat kita di Lamalera dan masyarakat Lamalera diaspora yang berada di mana saja.”

Demikian ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata, Jack Wuwur.

Lebih lanjut, Jack mengatakan, pendekatan dan sosialisasi sekaligus mendengarkan langsung dari masyarakat memang harus dan wajib.

 “Tentu semua reaksi itu bagi saya sangat positif untuk memertahankan tradisi dan budaya lefa nuang. Sudah dapam program saya untuk ke Lamalera akhir bulan Maret lalu atau awal bulan ini (April: red.). Saya sekarang di Kupang, sehingga setelah kembali ke Lewoleba, saya rencana ke Lamalera dan ingin bertemu dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh perempuan, pemerintah setempat untuk mensosialisasikan kegiatan yang sebenarnya merupakan program tahunan pemerintah. Kita pemerintah dalam hal ini memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat Lamalera,” ungkapnya.

Merawat Tradisi

Jeck juga mengungkapkan, eksplorasi lefa nuang tidak memiliki kepentingan lain selain hadir bersama dan mengalami bersama setempat.

“Pariwisata tidak ada kepentingan lain, tapi orang bilang dengan bahasa “memperjualbelikan budaya”. Sebenarnya bukan begitu. Itu bahasa-bahasa yang agak berlebihan. Tapi kita ingin orang kenal budaya yang ada di kampung. Dan ini kan banyak caranya. Ada yang tidak ke Lamalera, tapi mereka tau tentang lefa nuang dengan membaca di berbagai media masa, buku-buku, maupun media sosial online. Bahkan ada yang tidak hanya baca tapi merekam dan menonton lewat video. Kita tdk bisa mengingkari bahwa ada kebutuhan yang lebih dari itu. Mereka ingin hadir mengalami secara langsung, saksikan secara langsung. Mereka ingin terlibat langsung, khususnya dalam perayaan misa Lefa, perayaan tahun baru masyarakat Lamalera. Dan karena itu tugas kita sebagai orang pariwisata, siapa saja memberi kabar kepada semua orang di mana saja tanpa batas waktu dan tempat supaya mereka bisa memastikan “ingin bersama-sama dengan kita dalam tradisi yang selama ini kita rawat. Itu saja kepentingannya,” jelas Jack.

“Jadi intinya, kita ingin mengalami dan merasakan tradisi, ritual adat dan gereja bersama masyarakat Lamalera. Bagaimana keinginan kita untuk merasakan seperti yang dirasakan oleh masyarakat Lamalera, tentu kita harus ikut dan hadir bersama mereka,” lanjutnya.

Bantu Dapur

Sementara untuk menanggapi adanya program “Bantu Dapur”, Kadis Pariwisata Kabupaten Lembata itu menggambarkan dinas pariwisata melihat secara praktis dan teknis.

“Kalau kita ke Lamalera hadir dan tinggal bersama masyarakat Lamalera untuk ikut tradisi di sana, tentu, muncul pertanyaan, misalnya, saya makan di mana dan bagaimana? Bahkan saya mau minum, saya minum di mana dan minum apa, saya mau tidur, tidur di mana. Semuanya itu kalau bukan orang Lamalera yang siap, siapa lagi? Tentu tidak bisa diingkari bahwa dalam menyambut lefa nuang banyak orang akan mengunjungi lefo (kampusng: red) dan keluarga-keluarga Lamalera saat perencanaan, persiapan, sampai pelaksanaan lefa nuang pasti memilikirkan yang pertama  dan utama adalah makan, minum, dan tempat tinggal, juga kebutuhan lain seperti air, dll. di rumah untuk menyambut orang-orang yang ingin tinggal dan mengalami bersama tradisi lefa nuang,” papar Jack.

Jack juga mengungkapkan, “Kami juga sangat menghargai sesama yang menolak, dan selalu berpikir positif terhadap mereka. Kita tentu sangat berpikir positif terhadap setiap reaksi atas hadirnya pamflet itu. Festifal itu ada yang bilang perlombaan, sebuah pesta. Kalau kita perhalus lagi dalam konteks lefa nuang, oh ini perayaan. Perayaan yang sakral sehingga ketika kita mengalami itu berarti kita bisa menceritakan tentang esensi dari semuanya itu. Kalau dalam konteks pesta, Lefa Nuang adalah perkumpulan masyarakat, tentu sebagai perayaan yang di dalamnya butuh makan dan minum.”

Desa Haju