Memperingati atau Memeringati

Foto: Bonefasius Rampung

Seorang guru mengirimkan pesan singkat melalui Whatsapp meminta penjelasan terkait munculnya dua bentuk kata “Memperingati” dan “Memeringati”.

Persoalannya pemakaian dua bentuk itu membingungkan. Karena itu, kami coba meresponnya dengan ulasan ini dengan harapan bisa memilih secara pasti bentuk yang benar dalam praktik berbahasa.

Dua bentuk kata “Memperingati” dan “Memeringati” ini dalam praktik berbahasa baik lisan maupun tulisan tampaknya bersaing. Artinya, frekuensi penggunaan oleh pebahasa cukup tinggi. Bentuk “Memperingati” seakan-akan tergeser oleh bentuk “Memeringati”.

Dalam konteks penggunaannya yang bersaing seperti ini, orang lalu bertanya bahkan berdebat perihal bentuk mana yang benar (kompetensi linguistik) bukan mana yang baik (kompetensi komunikatif).

Orang menuntut bentuk yang benar (bahasa yang benar artinya sesuai dengan kaidah-kaidah linguistik). Kaidah linguistik itu secara umum merujuk pada disiplin Fonologi (kajian linguistik terlaian dengan bunyi bahasa bermakna), Morfologi (Pembentuk dan perubahan kata), Semantik (makna), dan Sintaksis (tata kalimat). Mencermati dua bentuk di atas maka uraian ini terfokus pada dimensi morfologi karena bertalian dengan proses perubahan dan pembentukan kata.

Kajian morfologi umumnya (artinya sebagian besar linguis) mengakui tiga hal pokok dalam kajian morfologi yakni pengimbuhan (afiksisasi), pengulangan (reduplikasi), dan pemajemukan (komposisi). Dari tiga proses ini muncullah kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk. Kata berimbuhan mencakup kata berimbuhan awal (awalan atau prefiks); kata berisisipan (infiks); kata berimbuhan akhir (akhiran atau sufiks), dan kata yang berawalan sekaligus berakhiran (konfiks atua simulfiks). Keempat bentuk pengafiksan (afiksisasi) ini selalu dipertautkan dengan bentuk dasar. Bentuk dasar itulah yang ada dalam kamus dan dicantumkan sebagai lema (bentuk baku untuk sebuah kata).

Kata “sabar” misalnya, ditetapkan sebagai bentuk dasar (lema) yang berpotensi mengalami perubahan melalui proses morfologis (afiksisasi) sehingga menghasilkan bentuk turunan (derivasi) ber-sabar, me-nyabar-kan, ke-sabar-an, pe-nyabar, ter-sabar. Pengimbuhan dengan prefiks ber-, konfiks me-kan, prefiks pe- dan prefiks ter-. Pemakaian imbuhan pada contoh ini menyebakan terjadinya perubahan bentuk kata menjadi kata berimbuhan. Selain bentuk kata berubah, jenis atau kategori kata juga mengalami perpindahan kategori (trans-katergori). Kata sabar yang semula berkategori kata sifat (adjektif) berpindah kaategori menjadi kata kerja (verba); menjadi kata benda (nomina). Bersabar dan menyabarkan sebagai bentuk turunan menjadi kata kerja. Kesabaran dan penyabar sebagai bentuk turunan menjadi kata benda (nomina). Ini hanya contoh sederhana tentang proses morfologis untuk membentuk kata baru dalam bahasa Indonesia.

Kembali pada persoalan pemilihan pemakaian kata “Memperingati” atau “Memeringati” . Manakah bentuk yang benar? Kita menjawabnya dengan memperhatikan bentuk dasar (lema) untuk kedua bentuk turunan itu. Dua bentuk itu sama-sama berbentuk dasar “ingat” bukan “ingat” dan “peringat”. Bentuk dasar “ingat” ini berpotensi mengalami proses morfologis berimbuhan (mengingat); reduplikasi (ingat-ingat), dan pemajemukan (lupa ingatan). Dua bentuk yang dibicarakan ini berkaitan dengan proses pengimbuhan dengan prefiks me-.

Bentuk dasar “ingat” (berarti berada dalam pikiran) bisa menurunkan bentuk-bentuk “ingat-ingat” (berhati-hati); “beringat” (selalu ingat); “beringat-ingat” (teliti, cermat); “mengingat” (ingat akan); “mengingati” (tidak melupakan); “mengingatkan” (supaya ingat akan); “teringat” (tiba-tiba ingat); “teringat-ingat” (selalu ingat); “ingatan” (apa yang diingat); “ingat-ingatan” (agak ingat); “peringatan” (sesuatu yang dipakai untuk memperingati atau hal memperingati); “memperingati” (mengenangkan suatu peristiwa); “memperingatkan” (mengingatkan); “seingat” (menurut ingatan). Dari bentuk-bentuk turunan yang dideretkan di sini tidak ditemukan bentuk “memeringati”.

Bentuk “memeringati” patut dicurigai dimunculkan karena kesalahan menerapkan prinsip morfologis bentuk dasar yang ditandai dengan bunyi awal vokal atau konsonan pada lema tau bentuk dasar. Berdasarkan penjelasan di atas dua bentuk yang diperdebatkan itu bentuk dasarnya “ingat” sehingga jika diimbuhi dengan prefiks me- menjadi mengingat. Lalu bentuk “memeringati” hanya bisa diterima (berterima) kalau ada bentuk dasar (lema) peringat atau peringati. Kamus tidak mencantumkan lema tersebut. Kalau lema itu ada, maka kaidah morfolgisnya mengikuti ketentuan bahwa konsonan /p/ akan mengalami peluluhan jika diimbuhi prefiks me-. Contohnya bentuk dasar pesan menjadi memesan, peluk menjadi memeluk.

Sebagai pembanding kita bisa mencermati proses morfologis bentuk dasar (lema) “percaya” dan “peroleh” . Dua bentuk dasar ini jika diimbuhi prefiks me-i dan me- maka konsonan /p/ akan luluh sehingga didapatkan bentuk turunan memercayai dan memeroleh. Bentuk mempercayai dan memperoleh justru sudah sering dipakai dan dianggap benar meskipun secara kaidah morfologis bentuk-bentuk ini justru bentuk yang salah. Penjelasan dan Argmentasinya persis berkebalikan dengan bentuk “memeringati” yang dipersoalkan ini.

Sebagai pedoman sederhana dan praktis untuk kasus serupa ini mungkin perlu berpegang pada dua prinsip ini. Pertama, pastikan bahwa kata dasarnya betul sebagai bentuk dasar bukan merupakan bentuk turunan atau kata yang sudah berimbuhan. Bentuk “memeringati” yang dipakai patut diduga bahwa orang menyangka peringat atau peringati itu sebagai bentuk dasar. Kedua, pastikan bahwa bentuk dasarnya masih asing atau tidak. Jika bentuk dasar itu dianggap asing, bunyi /p/ cenderung tidak diluluhkan.
Semoga bermanfaat dan menjadi pewawas bagi para penyanya dan pembaca. (Bone Rampung, Unika Santu Paulus Ruteng, Kamis, 30 Maret 2022)

Desa Haju
Penulis: Bonefasius Rampung