Pondok Tua

ilustrasi:sosok.id

Oleh: Epi Muda

Di pinggir kali mati, terkenang sebuah mimpi indah. Lelaki gondrong itu ditemukan oleh seorang nenek tua dalam semak belukar. Badannya kurus karena sudah satu minggu ia hanya makan buah kenari. Rambutnya dipenuhi dengan jerami barangkali jerami adalah tempat ia meletakan kepalanya. Nenek tua itu memanggilnya dengan tersenyum meskipun giginya tinggal dua karena yang lain telah ia korbankan demi mengisi lambungnya. 

“Nak, apa yang terjadi denganmu?”.

“Dunia ini penuh dengan manusia waras tetapi perlakuan seperti orang tidak waras”.

“Ia, nak, dunia memang ada manusia yang hidup dan waras tetapi ada juga yang tidak waras dan mereka itu adalah sisa manusia yang harus diperhatikan”.

“Memang setiap tapak perjalanan hidup akan ada sebuah dunia yang di dalamnya golongan orang-orang tidak waras”.

“Tetapi banyak orang yang waras membuat dirinya tidak waras karena malas”.

Nenek tua mengambil sepotong ubi bakar dari bakulnya. Ia  dengan waspada penuh merapikan rambut lelaki gondrong tersebut dan memberinya ubi bakar untuk dimakannya. Lelaki gondrong itu dengan rendah hati menerima ubi bakar dari nenek tua dan memakannya sambil meneteskan air mata.. Sebelum nenek tua tersenyum melihat lelaki gondrong itu kenyang, ia terkejut akan baju lelaki gondrong penuh bekas sobekan dan bilur-bilur luka. 

Nenek tua dengan penuh keyakinan memegang tangannya dan membawanya ke pondoknya tidak jauh dari tempat tersebut. Tenaga yang semakin tua semakin berkurang, berurat dengan sekejap membantu. Sedangkan tenaga yang masih kuat hanya duduk memandang dari jauh. Hidup adalah perjuangan untuk meraih masa depan dan menikmati hidup dengan berbuat baik meskipun umur terus bertambah. 

“Ikut aku, nak”.

“Hei…mau kemana?”.

Suara sergap seolah-olah membawa kecewa. Lelaki gondrong itu malah meronta, maklum saja orangnya kurang waras. Nenek tua hanya tersenyum. Suaranya mungkin suara yang sudah halus untuknya. Tetapi suaranya adalah doa. Doa yang mampu membuka mata semua orang untuk melihat masih ada orang miskin dan cacat yang butuh uluran tangan kasih.

Langkah demi langkah, akhirnya tiba di pondok nenek tua itu. Pondoknya sederhana tetapi sepanjang sejarah telah menghasilkan manusia yang berilmu dan bijak. Anak-anak dan cucunya kini berdomisili di kota dan suaminya telah berpulang tiga tahun lalu. Nenek tua itu sekarang tinggal sendirian di kebun untuk merawat pondok sederhana warisan bapaknya.

Pondok yang sederhana mampu menjinakan ribuan peristiwa dari orang-orang yang dianggap sampah di masyarakat. Nenek tua itu memang tak berdaya tetapi ia memberdayakan banyak manusia dengan hidup sederhana dan membuang waktu dan tenaganya untuk memanusiakan manusia yang masih dalam taraf menuju manusiawi. 

“Nak, ini pondokku. Pondok sederhana. Barangkali kamu merasa kasihan tetapi banyak orang menjadi manusia sukses berkat bernaung di bawah pondok ini”.

Lelaki gondrong itu kurang serius menanggapi perkataan nenek tua itu. Barangkali lelaki gondrong itu hanya memahami tetapi tidak sepaham karena aura ketidakwarasannya masih jauh mencolok. Ia menjama sebuah tiang pondok persis di depannya. Ia menertawakan tiang pondok itu sambil memukulnya. 

“Aduh…aku baru ketemu kamu. Kenapa selama ini kamu tinggalin aku? Aku kangen. Kamu masih ingat janji kita. Kita pernah berjanji sampai kapanpun kita akan tetap hidup bersama. Kamu masih sayang aku?”

Nenek tua hanya diam. Lelaki gondrong itu mencucurkan air mata di hadapan tiang pondok itu. Ia memeluk dengan mesrah. Ia mengenang kembali peristiwa yang pernah ia alami bersama istrinya. Ia ingin merasakan dekapan mesrah dari sang istri yang pernah menjinakan pikirannya semenjak ia masuk pada fase ketidakwarasan. Barangkali selama hidupnya ada kenangan-kenangan indah masih berkelahi dengan alam pikirannya yang kurang waras. 

Nenek tua itu tidak lagi sabar menjerang air dan membuat kopi pahit untuknya. Kayu api masih basah karena terkena hujan kemarin. Asap terus mengepul memenuhi pondok. Air mata nenek tua itu bercucuran karena terkena asap.

Nenek tua kemudian pergi ke kebun dan mencabut ubi kayu. Umbinya lumayan besar dan bisa mencukupi makan siang bersama lelaki gondrong itu. Setelah menanti, akhirnya ubi dan secangkir kopi siap dihidangkan. Sedangkan lelaki gondrong itu terus tertawa sambil mencucurkan air mata di hadapan tiang pondok itu. 

“Nak, mari kita makan dan minum”.

Lelaki gondorng itu segera merapat ke bale-bale dan duduk makan bersama nenek tua itu. Keduanya beradu tatap. Sambil makan ubi kayu dan minum kopi, nenek tua itu meminta izin untuk pergi ke sungai dekat kebunnya untuk mengambil air. Lelaki gondrong itu hanya menatap tajam kepada nenek tua itu. Selang beberapa menit kemudian nenek tua itu membawa satu ember terisi air penuh. 

“Nak, sebentar kamu mandi ya. Aku sudah siapkan air satu ember untukmu”.

Setelah menghabisi sepiring ubi kayu dan secangkir kopi, lelaki gondrong itu kemudian mandi.  Ketika berhadapan dengan ember yang berisi air, lelaki gondrong itu tertawa. Tangannya dicelupkan ke dalam air, sempat ia merasa takut dengan air karena ia merasa asing dengan air. Ia bermain-main dengan air sambil tertawa dan mencucurkan air mata. Maklum air baginya masih asing untuk sementara waktu.

“Hei, kamu tidak sayang aku? Aku rindu denganmu. Kamu masih setia denganku?”.

“Nak, mandi cepat”.

Langit mulai berlangkah menuju senja. Semesta terus menyimpan fenomena yang sedang terjadi di pondok tua itu. Selangkah itu pula nenek tua menyempatkan diri memohon kepada Tuhan untuk kesetiaan dan tanggung jawabnya untuk mengurus lelaki gondrong itu menjadi manusia normal. Sedangkan api yang sedang telah berarang menceritakan perihal nantinya ada kehidupan baru muncul  karena arang selalu menyimpan rahasia untuk mempersatukan lewat hasil masakan.

Lelaki gondrong itu telah selesai mandi. Nenek tua itu tersenyum melihat ketampanan si lelaki gondrong itu. Ternyata setelah mandi, pemuda itu sungguh bersih dan tampan.

“Kamu kelihatan tampan ketika selesai mandi. Kamu seperti para lelaki idaman perempuan  cantik”.

Lelaki gondrong itu hanya tersenyum. Nenek tua itu terus berusaha menjinakan pikiran lelaki gondrong itu dengan senyumnya. Senyum adalah doa yang mampu menjinakan ribuan peristiwa dalam pikiran. Senyum selalu menampakan cinta akan kehidupan yang lebih pantas. Senyum menggegerkan pikiran yang tersesat karena bingung akan arah hidup. 

Nenek tua itu kemudian mengambil sarung hasil tenunnya dua tahun lalu dan mengenakannya pada tubuh lelaki gondrong itu. Lelaki gondrong itu hanya tertawa dan mencium aroma sarung. Nenek tua mengambil sisir dan menyisir rambut lelaki gondrong itu. 

“Nak, rambutmu ternyata halus dan lurus ya. Kamu kelihatan tampan ketika rambutmu disisir dengan rapih”.

Sambil menyisir rambut lelaki gondrong itu, nenek tua itu kemudian menceritakan tentang pondok tua warisan bapaknya. 

“Nak, untuk membahagiakan keluarga, bapakku membuat sebuah pondok tua di pinggir kebun ini. Bapakku mengerjakannya butuh waktu yang lama. Waktu yang lama karena ribet membangunnya dan butuh keindahan. Pondok tua ini tempat bapakku menyimpan hasil kebun. Pondok tua milik bapakku sederhana tetapi berarti. Kami anak-anak merasa senang dan terharu penuh damai. Pernah bapakku berpesan sebelum membuat atapnya. Semoga kelak kamu anak-anak tetap dalam satu atap meski apapun yang terjadi. Pondok tua milik bapakku, ketika tibah di emperan pondok pertama yang kami ingat adalah isinya. Isi yang selalu menyimpan sejuta harapan untuk kehidupan masa depan. Bapakku berpesan. Jangan memandang luarnya tetapi isi karena isi adalah pusat yang membuat kita tetap bernafas. Pondok tua milik bapakku, ketika kami masuk dan beristirahat ada empat tiang berdiri tegak. Tiangnya cukup besar dan berkilat. Baru beberapa bulan rayap telah berkuasa melakukannya. Tetapi karena kami sering membersihkannya dan memasang api sehingga asapnya menjadi pengusir rayap sekaligus binatang kecil lainnya. Bapakku kemudian berpesan. Lihat ke-empat tiang ini meskipun rayap perlahan-lahan melapukannya tetapi bapakku tak pernah membiarkannya karena itu hiduplah kokoh seperti tiang ini dan jangan lupa mengusir rayap yang akan melapukan kamu hingga berkeping-keping. Pondok tua milik bapakku, banyak kisah turut berkisah. Bapakku mengakhiri setiap senja dengan tepukan tangan tanda pamit untuk meninggalkan pondok sendiri. Bapakku berpesan. Anak-anakku ketika bapak pamit untuk pergi tak kembali,  jagalah dirimu dengan doa yang terus mengalir sehingga kelak kamu masih satu pondok.”

Lelaki gondrong itu hanya tersenyum dan pikirannya mulai terbuka. Ia mulai sadar. Ia menagis mendengar kata-kata nenek tua itu. Ia merasa dirinya semakin sadar akan kehidupan yang baru. Hidup dengan sikap dan pikiran yang normal.

Matanya mulai terbuka untuk memandang setapak perjalanan hidup yang semakin luas dan jelas. Tetapi luka dalam dadanya tidak sembuh karena ia pernah jatuh cinta dengan luka. Luka karena tidak sanggup menjalankan hidup yang baik. Nenek tua itu pun tersenyum ketika melihat lelaki gondrong itu semakin sadar akan dirinya dan kehidupannya.

“Nak, hidup adalah tentang mencari dan menemukan. Luka adalah cara kau mencintai kehidupan. Sedangkan luasnya doa yang kau tuturkan terus mencintaimu dengan senyum. Memang luka itu sudah menjamur tetapi jangan menyangkal karena luka akan bertambah luka. Menerima luka, sudah cukup untuk kau kenal tentang kebahagiaan kelak.”

*Epi Muda adalah mahasiswa STFK Ledalero tingkat 1. Penulis berdomisili di biara SVD unit Gabrie. Tulisannya pernah diterbitkan diberbagai media masa.