Sinodal Menyapa Realitas Hidup Gereja

Yohanes Mau (foto: dok. pribadi)

Oleh: Yohanes Mau*

Sejak Oktober 2021 hingga Oktober 2023 mendatang, Paus Fransiskus menetapkan waktu tersebut sebagai tahun sinode. Dalam bahasa Yunani, kata sinode dapat diartikan sebagai syn yang berarti bersama dan hodos berarti berjalan. Secara harfiah, sinode dapat dimengerti berjalan bersama. Sinode adalah sidang tertinggi di dalam Gereja Katolik dengan melibatkan para uskup, kaum religius, biarawan-biarawati, dan seluruh umat untuk bersekutu, turut berpartisipasi di dalam misi keselamatan umat manusia. Dipanggil bersama untuk berpartisipasi di dalam komunitas doa, analisis, dan melakukan nasehat sesuai kehendak Tuhan. Bersekutu artinya hadir dan menyatuhkan seluruh totalitas diri bersama dalam kegiatan-kegiatan Gereja.

Berjalan Bersama

Hidup manusia adalah suatu perjalanan. Manusia melakukan perjalanan dari kelahiran menuju kematian, dari individual menuju sosial dengan yang lain. Dari pribadi bergandeng bersama dengan yang lain. Maka sinode dapat dimengerti sebagai undangan untuk berjalan bersama menuju bahagia dengan pelbagai pendekatan komunikasi dan diskusi sebagai jalannya. Berjalan bersama di dalam terang Roh Kudus. Membiarkan segala totalitas dirinya dimampukan untuk menjadi saksi dan pelaku misi. Di sini Gereja dituntut untuk menjalin relasi yang intim dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitar. Bertumbuh dan berakar di dalam komunio demi hidup Gereja yang menghari ini. Gereja yang menyapa realitas secara hari ini.

Setiap orang mesti rela tinggalkan dinding keegoismean diri dan keluar darinya, berkomunikasi dengan yang lain demi menata kehidupan yang lebih baik. Hidup akan menjadi lebih baik dan bermakna bila adanya kesediaan hati untuk bersekutu dengan yang lain lewat komunikasi dan diskusi tentang persoalan-persoalan sosial dan budaya dengan bantuan terang Roh Kudus. Artinya, sebagai anggota Gereja kita semua dipanggil untuk menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, alam sekitar, sesama, dan Tuhan.

Apa saja yang mesti dilakukan oleh anggota Gereja untuk menjadi terang dan menggarami dunia sekitar? Gereja yang sinodal adalah gereja yang bersatu dan berjalan bersama di bawah terang Roh Kudus. Oleh tuntunan terang Roh Kudus, umat dipanggil untuk berpatispasi secara aktif dalam menjalankan tugas kerasulan Gereja. Tugas ini berkaitan dengan pelayanan sebagai Missio Dei (rekan kerja Allah): Turut mengambil bagian di dalam proyek misi keselamatan yang sedang dikerjakan oleh Allah. Untuk menjadi terang dan garam bagi dunia, manusia mesti rela tinggalkan kemapanan dan hidup menyerupai Kristus sebagai kepala Gereja.

Kerinduan Bersama

Oleh aneka rutinitas dan kesibukan dunia, manusia hanyut berotasi di dalamnya. Tiada lagi waktu untuk berjalan bersama. Masing-masing larut dengan segala tawaran teknologi yang modern. Tiada lagi kesempatan untuk bergandeng tangan bersama menuju tujuan yang bernama bahagia. Manusia hanyut di dalam aktivitas dengan segala tawaran kemudahannya. Maka sinode adalah saat untuk berlangkah meninggalkan kesendirian menuju kebersamaan. Manusia sebagai makluk sosial saling berinteraksi satu sama lain untuk menata hidup ini menjadi lebih baik dari kemarin-kemarin yang telah pergi.

Warna kulit, cara pandang, tradisi, dan budaya boleh berbeda, namun yang menjadi kerinduan dari semua manusia adalah berjumpa dan mengalami sukacita yang sama secara bersama sebagai anggota Gereja yang sedang berziarah di jalan menuju Kristus sebagai kepala dari Gereja itu sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial mesti rela tinggalkan kesunyian hidupnya menuju keramaian sosial untuk berpartisipasi di dalam menjalankan misi keselamatan yang datang dari Allah.

Gereja tanpa persekutuan adalah hampa. Gereja tanpa partispasi umat seolah hidup terasa tawar tiada makna. Gereja tanpa misi adalah mati. Maka Gereja harus selalu berjalan bersama dalam segala situasi suka dan duka, sedih, serta bahagia dan gembira di segala waktu dan musim. Hanya dengan ini, Gereja dapat berjalan di dalam persekutuan, partisipatif menuju misi keselamatan bahagia selamanya.

Kini gereja sedang melibatkan seluruh anggotanya di dalam sidang agung Gereja demi masa depan yang lebih baik. Sinode juga adalah momen untuk memanggil kembali manusia dari kesibukan individual untuk kembali berziarah secara bersama menuju keselamatan. Misi keselamatan hanya bisa dijalankan dengan baik bila ada persekutuan dan partisipasi secara aktif oleh seluruh anggota Gereja. Mari kita berjalan bergandeng tangan mengakar-bumikan misi keselamatan Kristus di tengah derasnya roda zaman yang tak terbendung ini.

Harapan Bersama

Apabila dalam kurun waktu dua tahun ini Gereja dapat menjalankan sinode secara baik, maka saya yakin misi Gereja akan tetap eksis hingga keabadian karena segalanya bertumbuh dan berakar dalam Kristus dan Roh Kudus sebagai terang yang mengilhami di dalam menjalankan karya pewartaan.

Sinode memanggil manusia untuk tinggalkan kesibukan dunia kepada kebersamaan menuju bahagia yang sebenarnya. Realitas sekarang manusia hanyut di dalam kesibukan hariannya. Bahkan tidak ada waktu untuk berkumpul bersama, berkisah akan makna hidup yang sebenarnya. Realitas sekarang adalah harta kekayaan, jabatan, dan kekuasaan untuk menguasai yang lain menjadi perioritas utama. Bahkan, melihat yang lain sebagai saingan di dalam hidup. Melihat roda zaman seperti ini hati terasa sedih juga. Manusia memperioritaskan hedonisme hingga mengabaikan yang terpenting di dalam hidup.

Panggilan untuk berjalan bersama ini adalah cara terbaik yang tersedia oleh Gereja lewat Paus Fransiskus untuk menjawab realitas suram kini secara hari ini. Paus melihat realitas dan menjawabnya secara tepat sasar. Di sini sebagai anggota Gereja kita juga diundang untuk merealisasikan talenta yang ada dan terlibat dalam misi Gereja. Misi Gereja adalah misi kita. Kita dipanggil untuk meninggalkan segala yang bersifat sementara dan turut ambil bagian dalam misi keselamatan yang membebaskan.

Mari, tinggalkan kemapanan dan induvidualitas yang selama ini memenjarahkan. Bersekutu dan berpartisipasilah demi misi keselamatan umat manusia. Lakonkanlah hadirmu menjadi berkat bagi yang lain selagi masih ada nafas. sesungguhnya, Anda, mereka, saya, dan kita semua terpanggil untuk menjadi penyalur sejuk berkat bagi dunia. Semoga oleh keterbukaan hati kita di dalam sinode yang telah dan sedang berlangsung dan berakhir pada Oktober 2023 mendatang menjadi teduhan cinta yang mengalirkan berkat menuju bahagia keabadian.

*Penulis asal dari Timor-NTT-Indonesia; kini tinggal di Zimbabwe-Afrika

Desa Haju