Opini  

“Songke” Itu Kita

Oleh: Bernardus T. Beding Dosen Prodi PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Dalam kearifan kita, berbusana tidak sekadar membalut tubuh dengan pakaian. Busana menunjukkan martabat diri kita, seperti ungkapan Jawa, “ajining diri saka lathi, ajingin raga saka busana”. Bahkan, seorang pesohor dunia fesyen, Coco Chanel mengatakan, “Everyday is a fashion show, and the word is your runway”. Kalimat ini menarik, namun sangat pragmatis. Dunia fesyen modern sekadar mengutamakan daya tarik fisik, keindahan yang kasat mata. Akibatnya, orang berbusana sekadar untuk  tampil cantik, menawan, mempesona, dan menghipnotis orang yang mengamatinya tanpa memikirkan kualitas makna budaya di baliknya.

Cara berpikir demikian membuat kita tidak punya idealisme dalam berbusana, yang penting mengikuti tren baru dan tidak ketinggalam mode. Itulah sebabnya Tiongkok yang semula sangat tertutup pun sudah dilanda tren mode dunia. Kini banyak wanita muda mengenakan spagheti-strap sundres, celana panjang, stoking, jeans, dan rok mini nan seksi, sebuah revolusi fesyen yang meledak sejak era 1990-an (Jhon Naisbitt dan Patricia Aburdene, 1990).

Tantangan Songke

Menghadapi tantangan perdagangan bebas, para perajin songke perlu meningkatkan strategi kewirausahaan. Dalam dunia usaha, sangat penting untuk mengembangkan strategi-strategi seperti membranding produk, melakukan inovasi produk, dan memarketing produk itu sendiri. Tentu saja para perajin, bahkan kita semua harus kreatif dalam mengembangkan industri songke agar tidak tergilas arus globalisasi. Tantangan Songke Manggarai sangat besar. Kita mengalami bahwa banyak perusahan-perusahan tekstil (printing) yang membuat berbagai bentuk busana dalam bentuk motif songke Manggarai dibandingkan dengan masyarakat Manggarai yang hanya menggunakan alat-alat tradisional. Namun, harus dipahami bahwa perusahan-perusahan tekstil unggul dalam teknologi, modal, dan bahan baku, tetapi bukan menghasilkan songke. Itu hanya tekstil motif songke.

Dalam urusan bisnis dan industri yang pragmatis, pelestarian songke adalah bagian integral dari pembangunan karakter manusia Indonesia, khususnya masayrakat Manggarai. Songke adalah cerminan kepribadian luhur masayarakat Manggarai. Motif dan ornamen songke adalah representasi dari kualitas unggul pribadi yang mengenakannya. Artinya, dalam idealisme kearifan kita, busana songke adalah tindakan untuk mendandani bukan hanya tubuh jasmani kita, tetapi memperelok kepribadian kita.

Itulah sebabnya, pada masa silam setiap daerah dan  etnik budaya Manggarai membuat peraturan-peraturan pemakaian motif dan ornamen songke. Maksudnya, dibuat peraturan tentang motif-motif mana yang diperkenankan dan diperbolehkan, mana yang hanya eksklusif bisa dipakai oleh pra tetua adat dan untuk penghuni rumah adat (mbaru gendang), serta mana yang bisa dipakai untuk masyarakat biasa.

Dalam konteks sejarah waktu itu, peraturan dibuat atas dasar upaya menjaga martabat. Para bangsawan dan raja, bahkan tetua adat diidealkan memiliki kepribadian-kepribadian unggul sehingga mereka layak mengenakan songke yang motif dan ornamennya memiliki makna keluhuran budi.

Dalam konteks budaya lain, seperti buadaya Jawa, Kraton di Yogyakarta dan Surakarta pernah mengumumkan peraturan-peraturan pemakaian motif dan ornamen batik pada tahun 1769, 1784, dan 1790 melalui maklumat raja. Beberapa motif dan ornamen yang hanya dikhususkan bagi kaum bangsawan di Surakarta, antara lain, Sawat, Parang, Cemukiran, Udan Liris, dan lain sebagainya. Di Yogyakarta, motif-motif dan ornamen-ornamen ini hanya dikhususkan bagi kaum bangsawan, yakni Sawat, Parang, Garuda Ageng, Kawung, dan Semen.

Dalam budaya Jawa, batik bermotif parang rusak, motif yang diciptakan Sultan Agung (1613-1648) yang bermakna pemimpin berintegritas yang berani membela kebenaran, justru dikenakan pejabat korup. Batik bermotif udan liris yang bermakan kehidupan dan kesuburan, malah dikenakan pejabat yang tak peduli rakyat. Batik bermotif kawung yang bermakna hidup produktif justru dikenakan pejabat yang malas.

Tentu, gambaran tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat dalam memakai atau menggunakan songke, khususnya bagi tokoh-tokoh publik. Sekarang ini, para pendidik dan pegawai pemerintahan di wilayah Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur diwajibkan mengenakan songke dalam bentuk jas dan atau kameja sebagai salah satu seragam kerja dengan tujuan menghargai dan melestarikan tenun dan motif etnik Manggarai. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa tidak sedikit masyarakat Manggarai senang mengenakan busana songke bermotif dan ornamen khas daerah tanpa memahami apalagi menghayati arti atau makna di balik songke.

Songke adalah “Kepribadian Kita”

Berbagai model songke dengan motif dan ornamen yang berbeda-beda. Sepengetahuan saya, kain songke milik masyarakat Manggarai umumnya berwarna dasar hitam dengan beragam motif berwarna-warni sebagai pendampingnya. Motif-motif dan ornamen yang terajut dalam songke dibentuk atas dasar pemaknaan historis kerajaan, kebiasaan, kepercayaan, lingkungan alam, dan dalu di mana songke itu dihasilkan, digunakan, dan berkembang di tengah masyarakat. Artinya, setiap motif memiliki makna mendalam.

Pertama, motif su’i yang berpola garis-garis yang seolah memberi batas antara satu motif dengan motif lainnya. Garis-garis (su’i) tersebut memberi makna segala sesuatu ada akhirnya. Seperti hidup yang cepat atau lambat akan menemui ujungnya. Artinya, kehidupan masyarakat Manggarai memiliki batas pada garis-garis tuturan adat istiadat dan budaya yang tidak boleh dilanggar.

Kedua, motif mateng atau rumbit yang berpola menggambarkan anting-anting yang dipakai dalam lingkungan Kerajaan Todo pada tempo dulu.

Ketiga, motif mata manuk (mata ayam) yang dihubungkan dengan wujud tertinggi, Mori Kraeng (Tuhan) yang Maha Melihat. Artinya, masyarakat manggarai mengimani kebesaran Tuhan yang selalu melihat segala kehidupan manusia. Masyarakat Manggarai selalu menggunakan ayam sebagai bahan persembahan dan korban dalam proses ritual doa adat.

Keempat, motif wela ngkaweng dan wela runus. Wela ngkaweng merupakan sejenis bunga yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Manggarai sebagai obat luka binatang atau ternak, dan hewan. Motif wela ngkaweng mengandung makna kehidupan manusia yang selalu bergantung pada lingkungan dan alam. Hal ini dapat dibuktikan dalam kehidupan masyarakat manggarai yang menjaga dan melestarikan alam (hutan) sebagai sumber air yang menjamin kehidupan. Sementara, wela runus merupakan sejenis tumbuhan bunga yang berukuran kecil. Motif ini mengandung arti bahwa setiap kehidupan manusia, kecil sekalipun (yang biasa tidak dianggap) tetapi sangat berarti dalam kehidupan, karena dalam momentum tertentu sangat memberi arti bagi orang lain di sekitarnya. 

Kelima, motif ntala (bintang) yang bermakna kehidupan manusia harus berdampak positif bagi orang lain dan memberi perubahan baik dalam kehidupan bersama. Hal ini berarti kehidupan manusia harus diperjuangkan untuk mencapai bintang (kebahagiaan orang lain di sekitarnya).

Keenam, motif ranggong (laba-laba) yang memberi makna bahwa setiap manusia harus menanamkan dan menghidupkan sikap jujur dalam hidup (seperti laba-laba yang jujur dan rajin bekerja keras dalam hidup), karena kejujuran akan membuahkan hal-hal baik sehingga orang lain senang hidup bersamanya.

Ketujuh, motif rempa teke (kaki tokek) merupakan simbol kesetian dalam pernikahan. Artinya, seseorang yang telah memiliki pasanganatau pendamping dalam hidup tidak boleh berpindah ke perempuan atau lak-laki lain (selingkuh).

Berbagai motif songke dan maknanya masing-masing sesungguhnya menggambarkan karakter manusia, khususnya masyarakat Manggarai sebagai pemiliknya. Itu diri kita. Selain ditempatkan secara istimewa dalam berbagai upacara adat istiadat dan budaya, sesungguhnya songke menggambarkan karakter dan nilai sosial yang khas. Ada nilai rasa dan kebanggaan tersendiri ketika kita mengenakan songke. Karena itu, pemertahanan dan pelestarian songke semestinya dibarengi dengan pembangunan karakter budaya. Masyarakat Manggarai, khususnya para pendidik dan pegawai pemerintahan jangan hanya wajib berbusana songke, tetapi kualitas hidupnya dituntut harus berpadanan dengan makna motif dan ornamen songke. Para penenun songke yang bukan sekadar meladeni pasar dan pameran fisik, namun motif dan ornamen yang mengandung pesan-pesan budaya, moral, filosofis, dan spiritual. Dengan demikian, dunia akan melihat keluhuran Indonesia, khususnya tanah Nuca Lale, Manggarai dari keelokan busananya.***