“Anjing Pelacak” Sejarah (Mengenal Penulis dan Sejarawan Thomas B. Ataladjar)

Penulis dan Sejarawan, Thomas B. Ataladjar (Foto: Dok. Istimewa)

Robert Bala*

*Penikmat Tulisan-tulisan karya Thomas B. Ataladjar

Pada Jumat, 11 Juni 2021, saya membaca sebuah postingan Thomas Ataladjar. Sebuah nama yang bagi sejarawan Jakarta tentu tidak asing. Tetapi bagi banyak orang yang awam dengan sejarah, mungkin sebuah nama yang masih baru.

Tidak terlalu terlambat kalau nama yang sudah tertoreh dalam penulisan buku sejarah Jakarta ini dikenal. Siapa sebenarnya Thomas Ataladjar, penulis kelahiran Waiwejak, Lembata NTT, Flores, 12 November 1951?

Bila membaca buku-buku sejarah tulisan Thomas Ataladjar, seperti Toko Merah, Si Jagur, Lame Lusi Lako, Benteng Kuno Besejarah di Seputar Batavia, Jejak Kejayaan Monvliet, Gerbang Batavia yang Tak Pernah Singgah di Batavia, The Hidden Treasury of The Thousand Islands, maka kesan berikut akan muncul. Materi sejarah yang kaku dan sulit lagi membosankan, akan dibuat menarik. Thomas akan berkisah secara mengalir seakan-akan ia hadir pada saat peristiwa sejarah.

Cara menulis Thomas Ataladjar berbeda dengan banyak penulis. Bagi Thomas, menulis sebuah bab tidak harus dilakukan dalam pembagian yang ketat. Mempelajari buku-bukunya maka bab lebih merupakan penonjolan sebuah aspek yang kerap sebagai hentakan peristiwa-peristiwa kecil yang patut menarik perhatian.

Karena itu, buku-bukunya terkesan memiliki bab yang banyak. Padahal tidak seperti itu. Dengan mudah akan ditemukan kelezatan dan keindahan saat membaca. Tak disadari, seseorang akan segera melangkah dari bab yang satu ke bab yang lain.

Cara penyajian seperti inilah yang sebenarnya menunjukkan kekhasan Thomas dalam menulis. Terhadap sebuah karya sejarah yang bisa saja sudah diketahui, penulis yang pernah menjadi PR PT. Dharma Niaga hampir 25 tahun, bisa mengangkat hal-hal kecil.

Baca juga :  Kata-Kata Bawah Tanah

Bukan saja hal kecil itu diangkat demi menjadikan tulisan itu menarik. Di balik itu, Thomas mengangkat hal-hal kecil sebagai batu pijakan untuk menjelaskan sesuatu yang lebih dalam. Karena itu, tak heran, dalam tulisannya, suami dari Christina Emmanuella Dewi Irianty kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik.

Anjing Pelacak

Mendapatkan informasi-informasi menarik dalam tulisan sejarah tidak bisa dilepaskan dari kekhasan penulis. Dalam mencari sebuah informasi, Thomas melaksanakan falsafah ‘ew beniu’ atau anjing pelacak.

Ia akan mencari tanpa lelah sampai menemukan informasi yang mau dicari. Ia akan mengejar di mana pun narasumber ada sehingga bisa mendapatkan berita dari ‘orang pertama’. Tak pelak, data wawancara itu akan disimpan baik dalam bentuk kaset maupun tulisan yang disimpan secara rapi.

Data-data ini yang menjadi sebuah kekhasan. Thomas masih menyimpan buku-buku yang ia dapatkan di Seminari Hokeng, saat baru mulai mengenal dunia tulis menulis. Tak heran majalah yang masih distensil seperti majalah Seminari Hokeng maupun majalah Seminari Mataloko pada tahun 60-an, masih disimpan Thomas yang nota bene merupakan teman kelas Mgr. Frans Kopong Kung, ketika masih menjadi siswa di Seminari San Dominggo Hokeng.

Tulisan di Majalah DIAN terutama edisi-edisi awal tetap disimpannya. Baginya, itulah data yang terus akan bermanfaat selain karena memiliki arti khusus tetapi juga pesan yang ada di dalamnya akan terus dikenang dan tidak lekang waktu.

Baca juga :  Kata-Kata Bawah Tanah

Ketelatenan menyimpan data-data ini tidak disadari telah mengangkat Thomas untuk terpilih menjadi salah satu tokoh yang dianggap sangat pas untuk bisa ikut menulis Ensiklopedi Nasional Indonsia. Dalam Ensiklopedi 16 volume yang ditulis tahun 1988 – 1994 telah menjadi sebagai pengakuan akan profesionalisme yang dimiliki oleh lulusan Universitas Atma Jaya tahun 1976 dan PR di London Public Relation tahun 1988.

Keunggulan lain adalah ‘kemewahan’ yang dimiliki karena bisa mengunjungi banyak tempat bersejarah. Saat bekerja di PT. Dharma Niaga, Thomas bisa berkeliling Indonesia. Karena itu, ketika berkisah tentang sejarah, Thomas dapat menyebutkan secara tepat detail tempat dan waktu hal mana menjadikan karya-karya enak dibaca.

Membiarkan Narasumber Bicara

Apa yang sebenarnya menjadi kekuatan sekaligus dapat menjadi pesan bagi penulis sejarah? Sungguhnya banyak hal. Tetapi beberapa nilai berikut dari sejarawan yang akan memasuki usia 70 tahun pada 5 November 2021 ini. Semuanya tidak saja berbicara tentang penulis sejarah, tetapi mestinya diterapkan juga kepada siapapun yang terlibat dalam penelitian.

Pertama, Thomas sangat paham tentang ‘objective factual’. Ia selalu berusaha objektif dengan mengesampingkan keberpihakan dan subyektivitasnya dengan memisahkan pendapt pribadi dari fakta. Hal ini menjadi alasan mengapa Thomas menyimpan aneka data sejarah secara rapi yang kapan saja bisa diangkat bila ada kesangsian akan obyektivitas atau faktualitas.

Baca juga :  Kata-Kata Bawah Tanah

Kedua, Thomas terkesan menjadi orang yang terbuka, seimbang, dan bertanggung jawab. Terhadap sebuah karya, Thomas kerap meminta lebih dari seorang untuk membaca dan memberikan masukan. Ia seakan mau mengantisipasi keluhan pembaca ketika sebuah buku sudah diterbitkan. Ini pula yang menggambarkan perfeksionisme yang selalu ia punyai dalam menulis sejarah demi menghindari kesalahan yang tidak perlu.

Ketiga, semangat ‘curious’ atau wanting to know menjadi hal yang sangat menonjol. Dengan sikap seperti ‘ew beniu’ (anjing pelacak), Thomas akan mencium ke mana asal sebuah ‘bau’. Di sinilah keterbukaan untuk bergandengan dengan yang lebih muda dalam meneliti sesuatu menjadi hal yang sangat menonjol.

Semangat ini pula yang menjadikan Thomas sebagai seorang penulis yang selalu menemukan sesuatu baru (inventive ways). Tak heran meski di usia memasuki 70 tahun, dan sebentar lagi akan memenuhi janji Al Kitab karena bisa menjadi sebagian kecil orang yang memasuki etapa tujuh puluh ke delapan puluh (karena kuat), akan masih menghadirkan karya-karya yang bermanfaat.

Janji itu ternyata bukan sekadar di kebetulan. Sebagai kado di usia ke-70. Thomas akan meluncurkan karyanya berjudul: Lembata dalam Pergumulan Sejarah dan Perjuangan Otonominya. Buku yang penerbitannya sangat didukung oleh legislator asal Lembata, Sulaiman L. Hamzah diharapkan bisa menjadi pengingat kaum muda Lembata tentang sejarah yang melingkupinya dan tidak hanya diingat tetapi diaktualisir kapan dan di mana saja.***