Kata-Kata Bawah Tanah

Berjudi
Bernardus T. Beding (foto: dok. pribadi)

Bernardus T. Beding

Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng

Saya mau berkata-kata, kata-kata bawah tanah, ceritakan sedikit pengalaman. Saat itu saya berada di stasiun kereta api di bawah tanah. Suasana bising. Manusia hilir mudik. Semua hampir dalam langkah seribu. Kecuali remaja-remaja dengan celana jeans lusuh dan mulut tak henti-henti mengunyah permen karet, santai-santai saja. Mereka berkeliling dari satu etalase ke etalase lain. Lalu asik memandang reklame yang kelap-kelip penuh cahaya dan warna sambil sesekali mencatat di buku tulisnya. Ketika kusapa, mereka bercerita bahwa mereka mendapatkan pekerjaan rumah menulis karangan tentang reklame. Saya lalu ikut-ikut melihat serba macam reklame yang dibuat sedemikian rupa sehingga menarik mata dan hati. Tak salah lagi para pakar reklame itu tentu paham benar akan ilmu jiwa masa. Sungguh bisnis di bumi ini akan macet bila tak didukung oleh iklan dan reklame yang canggih, yang amat lihai merayu isi dompet.

Saking asiknya bersama para remaja itu, saya sampai lupa waktu. Begitu akan melangkah keluar, saya tertarik oleh etalase di pojok kanan. Di situ terpampang gambar manusia. Mulai dari janin dalam kandungan ibu, bayi yang mungil montok, kanak-kanak, remaja yang merekah, orang dewasa, lalu meningkat tua dan beruban, sampai berakhir di liang kubur. Gambar-gambar itu tak seberapa menarik perhatianku dibandingkan dengan kata-kata yang tercantum pada samping masing-masing gambar. Tulisannya kalau kita terjemahkan begini.

Kata-kata Bawah Tanah

Tahukah Anda bahwa kehadiran seseorang di dekat Anda bisa membuat Anda sehat dan segar-bugar, bisa pula membuat Anda layu dan kuyu. Bisa membuat Anda patah semangat dan khawatir dicekik maut, bisa pula membuat semangat hidup Anda bernyala-nyala?

Tahukah Anda bahwa kehadiran seorang manusia di dekat Anda  bisa membuat kebaikan, bisa pula mendatangkan bencana. Dan bisa pula membuat Anda bahagia dan ceria, bisa pula mendatangkan duka dan air mata?

Tahukah anda bahwa kepergian seorang manusia ibarat kematian yang melanda diri, bahwa kelahiran seorang bayi menghadirkan kembali nafas hidup baru?

Tahukah anda bahwa suara manusia punya daya menyembuhkan bukan hanya telinga yang sengaja tuli terhadap sesama?

Tahukah anda bahwa kata-kata dan perbuatan mampu membuka kembali mata yang buta terhadap sesama, juga terhadap arti hidup itu sendiri?

Tahukah Anda bahwa waktu anda yang anda berikan kepada sesama jauh lebih berharga dari uang, lebih berharga dari obat yang paling mujarab, dan terkadang bahkan lebih berharga dari operasi yang paling canggih sekalipun?

Tahukah anda bahwa mendengarkan sesama adalah tindakan amat bertuah dan bisa membawa mujizat, bahwa berbuat baik akan berlipat ganda balasannya, dan bahwa memberi kepercayaan berlipat ganda pula bunganya?

Tahukah anda bahwa berbuat jauh lebih berharga dari bicara, dan tahukan anda bahwa jarak yang membentang antara kata-kata dan perbuatan amat jauh jaraknya, seumpama antara bumi dan langit?

Diam dan Merenung

Itulah cerita alhmarumah Oma Stephie Kleden–Beetz, ketika kami bersua di satu sudut kota Jakarta. Sudah lama. Saya juga sudah lupa nama tempat perjumpaan kami. Maklum waktu itu saya masih kunya buku-buku SMA. Saya tidak tau, apalah cerita Oma Stephie itu sudah ada dalam bukunya Cerita Kecil Saja atau belum. Mungkin hanya saya yang ketinggalam buku itu.

Setelah dengar, saya celetuk, “Ah, bukan barang baru itu, Oma. Itu ‘kan lagu lama.”

“Yah, bukan masalah baru atau lama, tetapi bahwa di antara reklame yang simpang-siur yang memuja benda-benda, etalase yang memajang barang beraneka macam di stasiun kereta api bawah tanah di München, Jerman itu, masih ada satu pojok kecil yang bercerita tentang manusia. Manusia yang menurut Mark Twain: “Adalah penemuan yang tak ada duanya”.

Saya langsung diam dan merenung. Bagus juga kalau buat pembaca isi waktu luang untuk baca dan merenung.

Oma Stephie Kleden-Beetz

Terima kasih, Oma Stephie. Bahagia di Surga, doaku.

Desa Haju