Aroma Valentine’s Day dan Pra Momen Pelantikan (Sekadar Sisipan Konjungtif)

Oleh: Bernardus T. Beding
Dosen Prodi PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Saya menulis karya ilmiah populer ini dilatarbelakangi oleh hasrat dan rasa cinta yang dalam sebagai anak daerah terhadap masa depan daerah dan negeri tercinta ini. Tahun 2021 ini merupakan tahun yang mencatat sejarah baru kehidupan demokrasi pemerintahan daerah, khususnya daerah Kabupaten Manggarai pasca patahnya tongkat kepemimpinan petahana yang tidak sedikit masyarakat menganggap sebagai suatu kemunduran bahkan kegagalan yang tidak lebih sekadar memproduk politisi reaktif yang hipokrit nan aportunistik. Lebih dari itu, masyarakat sudah merasa jenuh sehingga mereka memilih pemimpin baru yang dianggap sebagai better than petahana.

Tentu, saya sepakat dengan tatanan konsep tersebut dengan satu momentum penting yang dapat dijadikan api pemicu letupan semangat mencintai dalam menyambut Bupati dan Wakil Bupati sebagai Kepala Daerah Kabupaten Manggarai. Momentum itu adalah Hari Kasih Sayang atau lebih trend dikenal sebagai Valentine’s Day yang kita peringati beberapa hari lalu. Patut diakui bahwa eksistensi perayaan ini masih terjebak dalam argumen pro dan kontra. Ada kelompok yang memandang Valentine’s Day sebagai bagian dari pendulangan westernisasi terhadap kehidupan lokal, namun di sisi lain banyak pula kelompok yang mendukung dengan terlibat aktif dalam merayakannya. Saya berpikir anggapan yang memandang Valentine’s Day sebagai produk asing yang tidak perlu dirayakan sesungguhnya adalah satu bentuk kesesatan, karena tahu dan sengaja telah mengoyak tirai hakikat humanisasi yang telah mentahtakan manusia sebagai homo amans atau manusia pencinta. Kita tidak perlu mengeksklusifkan diri secara kronis dalam kemunafikan lalu mengkamuflasekannya secara redaksional think global, act locally, padahal yang sebenarnya haruslah think and act, global and locally.

Valentine dan Cinta

Tradisi Valentine’s Day lahir pada abad permulaan sejak adanya Festival Lupercalia di Kota Roma. Kemudian, peristiwa ini diabadikan sebagai peringatan terhadap Santo Valentinus martir yang wafat pada 14 Februari 270. Dalam tradisi barat, Valentine’s Day ada bersamaan dengan datangnya burung-burung untuk mencari pasangan sehingga kemudian peringatan ini dimaknai sebagai hari untuk mencari pasangan bagi kaum muda. Valentine’s Day kemudian mengalami penyempitan makna karena telah menjadi momen penting untuk mengekspresikan cinta, khususnya di antara kaum muda yang ingin mencari pasangan hidupnya. Dalam perjalanan waktu, orang mulai mengubah tradisi Valentine’s day seperti saling menukar hadiah dan mengirim kartu. Tradisi kartu Valentin’es Day berawal dari Duke of Orleans saat di penjara di menara London. Pada Valentines’s day 1415 ia menulis kalimat-kalimat puitis tentang kasih kepada isterinya di Paris. Dalam perjalanan waktu lagi, Valentine’s Day kembali mengalami pergeseran makna lebih luas, tidak hanya di kalangan kaum muda tetapi sudah menjadi kebutuhan setiap insan tanpa membedakan usia, golongan, maupun status sosial. Intinya, ungkapan cinta kepada semua orang yang dicintai menjadi milik setiap insan tanpa kecuali.

Definisi cinta sangatlah sederhana. Dalam barisan horizontal, cinta berarti sikap untuk membahagiakan orang lain. Jika ingin menjadi pencinta, ia harus menerima cinta. Artinya, cinta membutuhkan pengorbanan karena cinta itu mengemban tanggung jawab. Cinta yang bertanggung jawab adalah menerima dan memahami di samping dapat membagi perasaan dalam suka maupun duka. Memang sulit untuk memahami orang lain, tetapi dengan cinta kita memiliki begitu banyak unsur positif, yang mengarah kepada kebaikan dan ketulusan, serta bermuara kepada pengharapan. Mencintai berarti ingin bersatu dengan keadaan orang lain sehingga melahirkan kesatuan dan persekutuan yang menjadi kekuatan yang memelihara dan menyempurnakan.

Eric Fromm membedakan empat watak sosial yang masing-masing memiliki orientasi berbeda dalam penghayatan cinta, yakni watak sosial penerima, watak sosial eksploitatif, watak sosial penyimpan, dan watak sosial pasar. Persoalan cinta bagi kaum watak sosial penerima adalah bukan bagaimana actus mencintai, tetapi sebaliknya dicintai. Kaum seperti ini mengalami penderitaan dengan intensitas lebih ringan kalau kelemahannya diketahui. Orang-orang yang berwatak sosial eksploitatif akan berusaha keras disertai umbar janji bila primadonanya menjadi rebutan. Sayangnya, sikap dan janji yang diumbar tidak keluar dari hati yang thulus tetapi hanya manifestasi ambisi egoisme semata. Pribadi-pribadi yang berwatak sosial penyimpan, menghayati cinta sebagai posesif, dia yang dicintai direduksi sejajar dengan infrastruktur lainnya. Konsekuensinya, mudah timbul kecemburuan yang tak terkontrol dan bisa mencuat di luar kewajaran. Kaum yang memiliki watak sosial pasar memilih pasangan cintanya berdasarkan kriteria hukum take and give. Perlu diingat bahwa semua manusia tidak memiliki watak sosial dan manifestasinya secara eksklusif.

Apabila setiap insan berpijak pada cinta tak produktif, maka keharmonisan dan kebahagiaan sulit didapatnya. Oleh karena itu, perlu relasi cinta yang produktif, yang memiliki karakteristik, pertama, cinta menuntut adanya pengetahuan yang tidak terbatas pada kulit luarnya saja (simpati), tetapi harus menembus ke dalam dirinya (empati). Pengetahuan akan orang lain mengatasi perhatian pada diri sendiri (egoisme). Kedua, cinta harus ditandai suatu dinamika. Keadaan manusia dicirikan oleh keadaan belum rampung menunjukkan manusia sebagai a situated subject, pribadi yang sedang menenun sendiri sejarah hidupnya. Maurice Nedoncelle yakin bahwa cinta menuju protion du toi (promosikan diri). Artinya, orang yang mencintai harus keluar dari kubu egonya untuk membuat dirinya laku, memberi dirinya kepada orang lain. Ketiga, cinta menuntut respek terhadap kemerdekaan orang lain. Apabila sikap tanggung jawab dalam mencintai diimbangi oleh respek ini maka kita menerimanya sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kita membutuhkannya hanya sebagai objek. Cinta berlangsung dalam kebebasan dan tidak dilihat sebagai manifestasi penguasaan dan kepemilikan. Keempat, cinta itu tanpa syarat, tak mengenal batas akhir. Model cinta seperti ini tidak merugikan, malah sebaliknya saling menguntungkan dan bisa mencapai bonum commune. Cinta mengalahkan segala sesuatu.

Aroma Valentine dan Pra Momen Pelantikan.

Masyarakat Manggarai sedang menanti acara pelantikan Bupati dan Wakil Bupati pilihan rakyat. Dalam cinta ada rasa saling memiliki, demikian pula diharapkan pasca pelantikan ada rasa saling memiliki, baik Bupati dan Wakil Bupati maupun rakyat. Kita mengharapkan agar Bupati dan Wakil Bupati yang masih polos dan belum terkontaminasi dengan rayuan neokolim itu menjalankan amanah rakyat dengan penuh cinta tanpa syarat. Sisi lain, rakyat harus tampil dan menjadi tuan dalam mendukung program pembangunan dari pemimpinnya. Tentu, rakyat juga sudah semakin sadar untuk menjadi pemain utama bukannya figuran dalam sinetron pembangunan. Kita juga mengharapkan agar program pembangunan Bupati dan Wakil Bupati yang baru harus terealisasi secara adil dan jujur yang didasari oleh cinta tak bersyarat. Kita harapkan tali cinta antara rakyat dan pemimpinnya bisa diwujudkan. Kita tidak menginginkan cinta dengan watak sosial penerima, di mana rakyat mudah ditipu dan dipermainkan karena Bupati dan Wakil Bupatinya bersekutu dengan rezim yang telah memperkosa amanah rakyat. Atau cinta watak sosial eksploitatif di mana Bupati dan Wakil Bupati hanya tahu mengumbar-umbar janji saat kampanye dan mereka sendiri khianati saat duduk di kursi nomor satu kabupaten. Atau watak sosial penyimpan yang hanya memandang status Bupati dan Wakil Bupati sebagai upaya untuk berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, mumpung masih ada waktu. Atau watak pasar yang tidak loyal pada panggilannya dan mudah untuk lari dan mengkhianati.

Tentu, yang kita harapkan adalah dengan semangat cinta Valentine’s Day, kita sukseskan pelantikan kepala daerah dan mendukung realisasi program pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati dengan cinta produktif tak bersyarat. Demikian sebaliknya, watak yang harus dimiliki oleh kepala daerah, yakni cinta produktif tanpa syarat dan tidak menjadikan rakyat sebagai objek.

Dengan cinta tak bersyarat antara rakyat dan pemimpinnya (bupati dan wakil bupati) dapat juga merasuki eksekutif dan yudikatif sehingga kita dapat mewujudkan on earth as it is in heaven dalam setiap sektor kehidupan. Atau versi Bung Karno, zaman bundeling van alle krachten van de natie, tekad bersama untuk mendahulukan kepentingan bersama, masyarakat, bangsa, dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan sendiri. Mari kita mendukung pemerintah daerah dalam menyukseskan program pembangunan kehidupan bersama dengan semangat cinta yang produktif tanpa embel-embel.