Frans Sarong: Kehadiran Medsos Cedrai Kaidah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Manggarai Timur.GardaNTT.id-Buku “Surat-surat Jelata: Narasi Kegelisahan”, telah diluncurkan pada Kamis (14/10/2021), bertempat di SMAN 2 Borong, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Buku tersebut merupakan kumpulan karya jurnalistik seorang Jurnalis bernama Kanis Lina Bana.

Frans Sarong, yang saat itu hadir sebagai pembicara memberikan apresiasi kepada penulis buku itu atas capaiannya.

Ia mengatakan, buku tersebut merupakan salah satu terobosan penulis di tengah mengkerdilnya dunia literasi akibat kecendrungan masyarakat yang lebih gandrung pada kegilaan medsos.

Kehadiran medsos, kata dia, telah menciderai kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dunia medsos menjadi ruang publik rimba raya tanpa batas, karena siapapun bisa menulis di sana tanpa harus memiliki keterampilan menulis.

Baca juga :  Warga Ende Timur Apresiasi Langkah Emanuel Minggu Memperjuangkan Aspirasi Rakyat

Fakta ini menurut Frans Sarong, justru menghancurkan dunia jurnalistik. Hal itu juga dinilainya sebagai sekat tebal antara media mainstream dengan medsos.

“Kalau menulis sebagai jurnalis, maka tentunya ada rambu-rambu, yakni 5W+1 H. Narasumbernya jelas, tempat dan waktu juga jelas. Konten-konten tulisannya ketika ada pihak yang merasa dirugikan, pasti bisa dipertanggungjawabkan. Sementara di medsos, orang bebas saja menulis. Dewan Pers dan Kominfo justru tidak berdaya untuk mengendalikan dunia medsos yang berseliweran,” jelasnya.

Frans Sarong juga memuji Kanis Lina Bana selaku penulis buku tersebut. Tulisan dalam buku itu disebutnya sebagai kata berjiwa.

Baca juga :  SMAK St. Gregorius Reo Boyong Kejuaraan Lomba Narasi Budaya Tingkat Kabupaten Manggarai

Ia mengilustrasikan serakkan kata itu seperti batu biasa yang ditemukan di mana saja. Ketika batu yang berserakan tersebut tidak mendapat sentuhan luar biasa, maka pasti nilai jualnya sangat rendah.

“Ketika batu-batu yang berserakan itu mendapat sentuhan luar biasa, ditempatkan di etalase yang pas, maka harganya menjadi mahal. Begitupun tulisan dalam buku ini. Diracik dengan bahasa yang lugas, diramu dengan bahasa yang sederhana, sehingga kata-kata itu terasa akan berjiwa,” ujarnya.

Kanis Lina Bana juga diibaratkan bak seorang penyair yang mampu menjernihkan sebuah kata.

“Kata kata itu disusun dengan benar, dengan demikian itu akan menjadi makhluk yang tak terjinakan. Kekuatan itu yang saya temukan dalam tulisan Kanis ini. Kekuatan kata amat dahsyat, lebih kejam dari senjata,” tambahnya.

Baca juga :  Kemkominfo RI Gelar Seminar Virtual Literasi Digital di Ruteng

Diakhir pemaparanya, Frans Sarong mengharapkan kiranya tulisan dalam buku “Surat-Surat Jelata: Narasi Kegelisaan” itu tidak membiarkan kegelisahan dalam kemeranaan, tetapi mencerahkan serta ada solusinya.

Sementara itu, Kanis Lina Bana, sebagai penulis menyampaikan bahwa buku itu merupakan kado istimewa di usia 20 tahun dirinya menjadi seorang jurnalis.

Ia menuturkan, kumpulan tulisan yang dibuatnya merupakan persoalan sosial yang diamatinya selama ini.

“Jujur saya bangga dengan dipublikasikannya buku ini. Tingkat kepuasan intelektual saya sangat tinggi karena dari 9 buku sebelumnya, buku ini lebih menukik,” akunya.

Penulis: Irend SaatEditor: Olizh Jagom