Pengrajin Lumpuh di Matim Jadi Mentor Pembuatan Piring Rotan Bagi Mahasiswa KKN UNIKA

Pengrajin

Manggarai Timur, GardaNTT.id – Sejumlah Mahasiswa Universitas Katolik (UNIKA) St.Paulus Ruteng yang tengah menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Golo Ndele, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, mendapat kesempatan mengikuti pelatihan membuat piring berbahan rotan pada Rabu (15/12/2021).

Agnetis A. Basir selaku koordinator para Mahasiswa KKN tersebut mengaku, senang mendapat kesempatan ikut dalam kegiatan itu. Pengalaman belajar menciptakan piring rotan adalah hal baru baginya.

“Jujur di Kampus selama ini yang kami alami, kegiatan pengembangan minat dan bakat hanya seputar olahraga dan musik. Nah, kali ini kami belajar hal baru, bisa ikut kegiatan pengembangan kreatifitas berwirausaha seperti pembuatan piring rotan ini. Hal seperti ini adalah sesuatu yang baru bagi kami,” katanya.

Ia mengungkapkan, kegiatan KKN adalah bentuk penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat. Ia menyadari jika dirinya mendapat pelajaran berharga dari masyarakat selama kegiatan KKN.

“Tujuan KKN ini sesungguhnya untuk menerapkan ilmu yang telah kami dapat di Kampus. Tapi apa yang sudah kami belajar berbeda dengan kondisi di masyarakat. Oleh karena itu, kami banyak belajar dari masyarakat Desa Golo Ndele, khususnya pelatihan kreatifitas seperti ini yang tidak pernah kami dapat di lembaga formal,” ungkapnya.

Agnetis menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada Pemerintah Desa dan warga masyarakat Golo Ndele yang telah menerima mereka di desa itu. Ia merasa kehadiran mereka diterima baik oleh masyarakat.

“Kami ada 8 orang mahasiswa yang KKN di sini. Atas nama Civitas Akademika St. Paulus Ruteng kami menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga sehingga bisa diterima dengan baik untuk melaksanakan KKN di sini,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, para Mahasiswa di bimbing oleh Yonti Selus, pengrajin rotan asal Desa Golo Ndele yang memiliki keterbatasan fisik yakni lumpuh yang dideritanya sejak lahir.

Namun, kondisi fisik tersebut tidak lantas membatasi ide kreatifnya menyulap rotan menjadi barang bernilai guna seperti piring, topi, tas, dan vas bunga. Kegiatan itu kini menjadi usaha yang ia geluti secara bersama dengan anggota kelompok lainnya yang bernama kelompok “Kasih Ibu”.

Yonti Selus, menekuni usaha itu sejak tahun 2013 silam. Pada awal memulai usahanya, Yonti mengaku, banyak orang meragukanya.

“Banyak orang ragu karena melihat kondisi fisik saya ini. Tapi, bagi saya, justru itu energi positif yang justru membangkitkan semangat saya untuk terus berjuang, membuktikan kepada semua orang bahwa saya juga bisa,” ucapnya.

Dikatakan Yonti, dalam menjalankan usahanya itu ia kerap mengalami kendala dalam hal pengadaan bahan baku. Rotan sebagai bahan utama, kata dia, harus ia beli dari orang lain karena dirinya tidak bisa mengambilnya sendiri di hutan.

“Untuk saat ini, saya buat jika dipesan. Belum bisa menyediakan stok banyak karena kekurangan modal. Kalau nanti punya cukup modal, saya bisa buat sebanyak mungkin, lalu dipasarkan. Karena bahan bakunya saya beli dari orang. Sehingga saat ini saya butuh modal banyak baru bisa siap stok,” ujarnya.

Terkait pelatihan yang ia berikan kepada para Mahasiswa KKN dari UNIKA St.Paulus, Yonti mengaku senang dan bangga dengan antusiasme para mahasiswa tersebut.

Ia berpesan kepada para Mahasiswa agar berkenan mempromosikan hasil karyanya itu kepada orang banyak sehingga ia lebih bersemangat dalam mengembangkan usahanya.

“Saya sangat berharap teman-teman Mahasiswa ini bisa bantu saya promosikan hasil karya saya ini. Kalau semakin dikenal orang, pasti banyak pembeli sehingga saya juga tambah semangat,” ucapnya.

Belum Adanya Sentuhan Pemberdayaan Terhadap Pengrajin

Dijelaskan Yosi, pengrajin di Kabupaten Manggarai Timur belum diberdayakan secara baik oleh Pemerintah. Kata dia, jika saja ada sentuhan pemberdayaan dari Pemerintah, maka tentu menjadi energi positif bagi para pengarajin dalam menggeluti usahanya.

“Belum ada pemberdayaan dari Pemerintah, sehingga kami para pengrajin ini begini-begini saja, tidak bisa berkembang. Saya yakin kalau Pemerintah bisa berdayakan seperti bantu modal, atau paling tidak siapkan pasar untuk menjual hasil karya kami ini, pasti akan berkembang secara maksimal,” tuturnya.

Saat ini, ungkap Yonti, hasil karyanya itu dibeli dengan harga murah oleh pembeli.

“Karena pasarnya tidak jelas, sehingga tidak salah kalau harganya boleh dibilang tidak seimbang dengan usaha pembuatanya. Mau apalagi, karena kami selalu butuh uang, terpaksa kami jual murah saja,” tandasnya.

Desa Haju
Penulis: Irend SaatEditor: Olizh Jagom