Puisi  

Piluh Peluh Bunga Liar

Hujan sore kemarin,

Membawa serta sejuk yang menguak gersangnya tanah kemarau

Di pinggir jalan mawar tanpa tuan itu tergeletak

Gemulai dengan pesona menawan yang menggoda

Mengintip dari balik helai daunnya yang tergerai di tanah

Ego pelangi selepas hujan enggan menyapa

Hawa dingin juga gerimis sisa hujan

Meludah dan meringkusnya dalam kesepian

Tak ada yang memayunginya

Alang-alang serta tanah lembab menjadi ranjang berduri

Di  setiap tetes air dari balik atap rumput

Bibir kakunya bergumam, mengeja setiap kata yang terlontar

Bercerita tentang hutan rimba yang menidurinya paksa

Juga kisah semak belukar yang menjajah kebebasan dan hormatnya

Ia terjepit dalam suasana gaduh yang menelanjangi rapuhnya raga

Tersisa helai daun juga bunga selimut dekil penghangat tubuhnya

Ia bunga suci yang ternoda

Bait tempat kodratnya bersemayam telah runtuh oleh nafsu si penjilat

Kertas putih hidupnya dihujani tinta hitam bertubi-tubi

Hingga secuil pun tak tersisa lagi

Bui dunia telah menghukumnya

Ia terpojok dari bahaginya

Bahkan tanah tempat ia menginjakan kaki

Tak sudi menahan rebahan tubuhnya

Yang berlumurkan lumatan lidah sang belukar kejam

Karya: Ririn Malany

Pegiat di kelompok Lensa Literasi Sanclaw A-13