Rekam Jejak Digital Gala Masa Depan Menjadi Stigma, Keluarga Diminta Menahan Diri

Pembunahan
Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi KPAI, Jasa Putra

Jakarta, GardaNTT.id – Sangat tidak layak anak bayi umur 2,5 tahun, berada di pusaran konflik orang dewasa, karena anak kecil tahunya semua keluarga mencintainya.

Demikian yang disampaikan Jasra Putra Kadivwasmonev KPAI dalam diskusi (14/1) Live Instagram yang di selenggarakan HaloHukum.com

Pengalaman KPAI, jelas Jasra Putra, dalam mediasi perebutan hak asuh anak, seringkali alih alih melindungi anak, ternyata energi besar perebutan kuasa asuh dan pusaran konflik yang menebal itu. Meninggalkan anak anak dalam situasi semakin rumit yang tidak pernah di pahaminya serta menghilangkan kehangatan keluarga. Situasi yang tidak pernah ingin dialami bayi seumur Gala. Karena tidak mendapatkan lingkungan yang kondusif sehingga membawa buruk perkembangan psikologisnya.

“Anak sekecil itu belum mengerti kenapa ayah ibunya tak pernah pulang, ia bertanya terus kepada orang di sekitarnya, karena belum mengerti konsep kematian.” ungkap Jasra

Jasra menambahkan, saat ini yang paling penting adalah menghantarkan Gala sampai ia dewasa, memberi pemahaman, pengertian dan dijelaskan bahwa almarhum kedua orang tuanya sangat menyayanginya, perhatian padanya, bahkan sepeninggal mereka berdua keluarga masih memperjuangkan masa depannya.

“Inilah yang harusnya keluarga atur sebaik baiknya. Hantarkan ananda Gala sampai ia benar benar siap dan mampu memutuskan sendiri dan menyadari hak haknya,” ungkap Jasra lagi.

Desa Haju