The Stars Down To Earth, Rute Transformatif Wisudawan Unika St. Paulus Ruteng

Penulis: Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th

The stars down to earth merupakan gagasan kritis-konfrontatif tentang identitas dan entitas manusia modern yang dipopulerkan oleh Theodor W. Adorno, seorang filsuf dan sosiolog paradigmatis asal Jerman. Identitas sebagai the stars adalah proyeksi popularitas yang tidak hanya menjadikan seseorang selalu merasa sentral dari antara orang-orang lain tetapi juga mengharuskan orang-orang lain untuk tertuju pada sentralitas dirinya. The stars dilihat sebagai kesepakatan yang dianggap sempurna tentang cara-cara hidup yang mapan dengan fenomena kultus pada popularitas semu.

Adorno mengkritisi identitas the stars yang dianggap sebagai representasi kehidupan ideal dan menutupi kesadaran kritis. Oleh karena itu, Adorno melihat kehidupan tidak hanya berkutat pada kemapanan tetapi mesti keluar dari kemapanan dan menemukan pemahaman yang mendalam tentang realitas yang sebenarnya. The stars down to earth adalah ungkapan stimulatif-provokatif sekaligus ajakan transformatif untuk terus bergerak kepada kenyataan-kenyataan periferik yang barangkali sering diabaikan dan bahkan dipolitisasi.

Hal itu sejalan dengan gagasan Pierre Bourdieu yang menekankan transformasi habitus seseorang dari sentral menuju periferi atau atau dari hal-hal yang dianggap besar kepada sisi-sisi terkecil.

Berkaitan dengan seremoni wisuda 752 orang calon sarjana Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng hendaknya menjadi rute transformatif yang tidak hanya menempatkan para sarjana dan ahli madya sebagai sentral tetapi juga merupakan aktor-aktor baru yang siap menciptakan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Esensi tradisi wisuda adalah memperingati pencapaian akademik wisudawan dan memberikan penghargaan atas usaha keras mereka dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Melalui penghargaan ini, status kesarjanaan dan ahli madya menjadi habitus modern yang senantiasa melekat dalam berbagai posisi dan eksistensi mereka. Kesarjanaan adalah rumah keberadaan (the house of being) mereka.

Melalui habitusnya, wisudawan menginternalisasi nilai-nilai dan praktik-praktik baik yang diklaim sebagai keyakinan akan kebenaran. Nilai-nilai tersebut diyakini sebagai referensi primer yang terus dilakukan terus-menerus dalam membangun kehidupan bersama.

Dengan kata lain, praksis kehidupan wisudawan tidak bisa dilepaspisahkan dari habitus yang membentuk identitasnya. Habitus menggambarkan secara tendensius tindakan dan reaksi mereka dengan orang-orang yang mengitari mereka.

Seremoni wisuda selalu menghadirkan apresiasi, motivasi, dan progresi. Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng dan masyarakat mengapresiasi kerja keras wisudawan yang sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih gelar kesarjanaan dan ahli madya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, wisudawan Unika St. Paulus Ruteng Tahun 2023 yang memperoleh nilai cum laude berjumlah 95 orang, sangat memuaskan berjumlah 549 orang, dan memuaskan berjumlah 108 orang.

Kampus dan masyarakat juga menyematkan sejumlah motivasi di pundak para wisudawan yang akan resmi menyandang gelar Sarjana pada 11 November 2023, Para wisudawan mesti mampu menjadi tulang punggung kemajuan dan peradaban, kesejahteraan, dan kebaikan bersama.

Kalian mesti merealisasikan prestasi akademik. Kamu semua adalah the stars yang berani keluar dari menara gading kemapanan intelektual sekaligus berani membumi/ down to earth.

Down to earth menjadi representasi lain dari keberanian untuk melepas segala arogansi intelektual dan serentak bersikap inklusif pada potensi yang berbeda. Inklusivitas tidak hanya menyangkut keterbukaan tetapi lebih dari itu; kesediaan membiarkan orang lain masuk ke dalam ranah kita dan memungkinkan kita untuk masuk ke dalam ranah orang lain.

Wisudawan adalah progresor-progresor baru; agen-agen perubahan dan kemajuan nyata yang membuat masyarakat Manggarai Raya menjadi lebih baik.

Pantauan media ini, Acara Wisuda dihadiri oleh Pimpinan LLDIKTI IV beserta jajarannya, Perwakilan Gubernur NTT, Bupati Manggarai, Bupati Manggarai Barat, Bupati Manggarai Timur atau yang mewakili, para kepala dinas dan sekolah tinggi yang sempat hadir, para dosen dan tenaga kependidikan Unika St. Paulus Ruteng, dan orang tua para wisudawan.