Ameliana Bertingkah

Ilustrasi: pos Kupang

Oleh: Waldus Budiman

Desa Haju

Dia gadis yang menenangkan jiwa dan mampu meramalkan masa depan. Berpegang tangannya saja sudah lebih dari cukup, apa lagi hal yang lain.

Kampung Lalang memberikan suasana yang cerah. Beberapa petani baru pulang dari kebun. Anak-anak sedang asyik bermain di halaman rumah nenek yang ukurannya luas sekali. Di sana ada pohon mangga yang rindang. Ini juga menjadi tempat mereka untuk berteduh. Halaman rumah nenek biasa digunakan untuk tempat pesta di kampung kami. Semisal pesta pernikahan, acara sekolah dan acara lainnya. Apalagi memasuki bulan 6 hingga Agustus. Kampung kami selalu ramai dengan acara tersebut.

Namun musim kemarau kali ini benar-benar menampilkan situasi yang berbeda. Rata-rata petani mengeluhkan gagal panen. Selain kesulitan air di persawahan juga hama yang belum menemukan solusinya. Tidak salah kemarin opa Andre mengumpat pemerintah saat kami lagi asyik ngobrol di pendopo rumahnya.

“Pemerintah memang kerjanya begitu sudah, anak. Suka mencuri uang negara,” katanya sambil menyulut rokok.

Apa yang disampaikan oleh opa Andre ada benarnya juga. Beberapa lembaga survei membuktikan hal tersebut. Atau mungkin saja, opa Andre sering nonton di TV soal berita korupsi pejabat di negara kita tercinta ini.

*****

Kampung kami bersebelahan dengan ibu kota kabupaten. Sehingga jarak antara rumah warga dengan pemerintah tidaklah jauh. Bahkan beberapa orang hebat di kampung, sering ngopi bareng bersama para pejabat di dinas terkait. Tetapi bukan itu yang aku ingin ceritakan.

Ada satu kisah menarik tentang sepupuku yang baru saja menyelesaikan kuliah di Jawa. Dia terhitung mujur. Belum sebulan diwisudakan, dirinya diterima jadi tenaga harian lepas pada salah dinas terkait di kabupaten kami. Tentu sebagai keluarga, aku merasa bahagia. Paling tidak, nasibnya tidak seperti beberapa sarjana lain yang memilih jadi wirausaha setelah mengirim lamaran sana sini dan belum ada panggilan pula.

Sebut saja namanya Ameliana. Seorang gadis berdarah Manggarai asli. Disukai banyak lelaki hidung belang, dan jadi rebutan teman kuliahnya waktu di Jawa sana. Cerita ini saya dengar dari teman kampusnya, sebut saja, Epozht. Ameliana memiliki pipi lesung dan pinggul yang montok. Selain postur tubuh yang seksi, juga senyumannya yang selalu memanjakan mata.

Benar kata Epozht, dia gadis yang menenangkan jiwa dan mampu meramalkan masa depan. Berpegang tanggannya saja, sudah lebih dari cukup, apa lagi hal yang lain.

Tepat pada bulan Juli 2019, Ameliana kembali ke Manggarai. Dan bulan Agustus dia mulai menjadi THL di salah satu dinas. Tuntutan jam kerja, mengharuskan Ameliana selalu tiba malam di rumah. Setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu, karena semua kantor libur. Bahkan pada hari itupun, Ameliana selalu ke kantor. Itu penjelasannya. Ayah dan ibunya berserta saudaranya memahami hal tersebut. Waktu bersama keluarga, sangatlah sedikit. Mungkin itulah namanya wanita karier.

****

Suatu hari, tanpa sengaja aku mengecek handphone (hp) Ameliana.  Ada hal yang menarik sekaligus sulit untuk di percaya.

Dari sekian banyak pesan masuk, ada salah pesan dari seseorang yang bukan asing lagi bagiku. Kebetulan, selama jadi jurnalis di salah satu media online, aku sering bertemu dengan orang tersebut. Dia seorang yang memiliki kedudukan strategis di kota kabupaten.

Dalam percakapan mereka di WhatsApp layaknya seorang suami istri. Dari kata ‘sayang’ hingga ‘mami dan papi’. Aku berusaha untuk tidak masuk terlalu jauh. Sebab yang bukan kepunyaanku tidak boleh dihakimi.

Waktu terus berlalu, bulan berganti. Kebiasaan Ameliana pulang malam bukan sesuatu yang aneh lagi. Sebab orang-orang sudah mengerti bagaimana tuntutan kerja yang dijelaskan Ameliana sebelumnya.

Tepat di bulan Juni 2020, gerak gerik Amelina menjadi lain. Ameliana bertingkah seperti anak kecil. Suka rewel dan selalu minta hal yang aneh. Kadang minta dipetikkan mangga atau suka minta sesuatu yang suka terkadang merepotkan orang rumah.

“Ken, tolong beliin aku buah anggur,” pintanya suatu sore.

“ko kamu tiba-tiba pengen makan buah anggur,” jawabku sambil menyeruput kopi.

“ahh..kamu banyak tanya,” katanya ketus.

Ada banyak permintaan lainnya yang harus dituruti. Sebagai keluarga, saya selalu menurutinya. Selain dalam keluarga kami tidak ada saudari perempuan, jadi aku sudah mengangap Ameliana sebagai saudari kandungku.

Suatu malam, setelah merayakan ulang tahunnya, semua keluarga besar berkumpul di ruang tengah kecuali Ameliana. Lalu sang Ayah memanggilnya untuk berkumpul bersama.

“Amel, ayo sini. Kita duduk sama di sini,” ujar sang Ayah.

Satu, dua kali sang ayah memanggil belum juga ada respon dari dalam.

Panggilan ketiga, ibunya mengetok pintu kamar Ameliana. Karena belum juga ada respon, pintu kamar dibuka.

Betapa kaget ketika melihat Ameliana terbaring lemas di atas tempat tidur, dengan bercak-bercak darah di sekelilingnya. Ibunya berteriak histeris. Ameliana keguguran.

Waldus Budiman, Alumnus Filsafat Ledalero. Penyuka kopi pahit, suka menyendiri, dan kadang mencintai mantan orang lain.
Penulis: Waldus Budiman
Desa Haju Desa Haju Desa Haju Desa Haju Desa Haju Desa Haju