Kajian Pragmatik: Pelanggaran Maksim Kuantitas dalam Debat Cawapres Keempat 2024

Penulis: Yosefina Vilkanova
GardaNTT.id– Debat keempat calon wakil presiden mengandung banyak polemik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, debat keempat yang berlangsung pada tanggal 21 Januari kemarin memberikan warna tersendiri karena masing-masing paslon menyampaikan argumen serta visi dan misi untuk menarik simpati rakyat.

Argumen-argumen tersebut dapat dikaji dalam Ilmu pragmatik membahas bahasa yang terikat pada konteks tuturan. Maka, debat keempat cawapres ini dapat dianalisis dengan ilmu pragmatik dan menemukan pelanggaran maksim kuantitas di dalamnya.

Sebelum menyelami lebih dalam apa saja maksim kuantitas dalam debat ke empat, kita bedah terlebih dahulu pengertian pragmatik dan maksim kuantitas.

Pragmatik ialah cabang ilmu linguistik yang mempelajari bahasa dari sudut pandang hubungan antara bahasa dengan konteks penggunaannya.
Sementara, maksim kuantitas ialah bagaimana menghendaki setiap penutur memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang diperlukan mitra tutur.

Dalam Debat keempat cawapres 2024 bertemakan pembangunan berkelanjutan, lingkungan hidup energi dan sumber daya alam, pangan, agraria, masyarakat adat dan desa memiliki beberapa pernyataan penutur yang melanggar maksim kuantitas.

Berdasarkan debat keempat cawapres penulis berhasil menemukan dua pelanggaran maksim kuantitas.

Pertama, pertanyaan Gibran kepada cawapres nomor urut 1 berkaitan dengan Lithium Iron Phosphate, apakah cawapres nomor urut 1 anti Nikel atau tidak?
Jawaban Muhaimin: “tenang pak Gibran semua ada etikanya termasuk kita diskusi di sini bukan tebak-tebakan definisi tebak-tebakan singkatan. Kita levelnya adalah kolose dan kebijakan, prinsipnya sederhana, semuanya kemabli kepada etika pak Gibran etika, sekali lagi etika. Etika itu adalah etika lingkungan apapun yang menjadi kebijakan kita menyangkut produksi, pengambilan tambang sumber daya alam juga apapun yang kita gunakan seluruh potensi bangsa ini rujukannya adalah etika lingkungan. Komitmen kita, intinya adalah keseimbangan antara meletakkan manusia dengan alam,” Jelas Cak Imin.

Pernyataan yang disampaikan Muhaimin di atas sangat bertele-tele. pertanyaan berkaitan dengan Nikel namun yang dijawab soal etika. Sebenarnya kata etika tidak perlu dijelaskan hingga memakan waktu sesi menjawab pertanyaan. Tanpa dijelaskan, rakyat pasti tau dasar etika itu seperti apa. Penjelasannya terkesan bertele-tele.

Kedua, pertanyaan Muhaimin kepada Gibran bagaimana strategi melaksanakan pembangunan berbasis bio regional.
Jawaban Gibran: “Gus Muhaimin ini lucu ya menanyakan masalah lingkungan hidup tapi itu kok pakai botol-botol plastik itu padahal saya , pak Ganjar, Prof Mahfud pakai botol kaca itu gimana itu komitmennya, botol plastik semua itu. Tapi nggak apa-apa kita kembali lagi ke topik ya,” jelas Gibran.

Sebelum masuk kepada jawaban inti, Gibran sempat memulai argumen yang juga bertele-tele. Dalam ilmu pragmatik, hal itu sudah melanggar maksim Kuantitas. Alangkah baiknya jika Gibran langsung menyampaikan argumen sesuai dengan apa yang ditanyakan sehingga waktu nya bisa dipakai dengan baik.

Penggunaan kalimat yang berlebihan dan berulang-ulang dalam sebuah kalimat akan terkesan sangat bertele-tele. Sebaiknya ketika berbicara dalam forum resmi seperti debat, argumen yang disampaikan harus to the point agar audiens dan mitra tutur bisa memetik inti dari jawaban yang di sampaikan

Dengan demikian, kajian ini menunjukan bahwa ilmu pragmatik dapat dikaji dalam debat cawapres tahun 2024 dengan ditemukannya pelanggaran maksim kuantitas.