Solidaritas PGRI Cabang Wulanggitang untuk Korban Bencana Adonara

Flores Timur.GardaNTT.id– Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang beberapa desa di pulau Adonara tidak saja menimbulkan dukacita yang mendalam tetapi juga membangkitkan rasa solidaritas.

Solidaritas kemanusiaan tanpa sekat wilayah, suku, agama, ras dan golongan mengalir dari berbagai wilayah dan datang dari segenap pihak. Solidaritas terhadap korban bencana inilah yang menggerakkan PGRI Cabang Wulanggitang menggalang dana secara internal untuk meringankan beban para korban bencana.

Ketua PGRI Cabang Wulanggitang, Eduardus Pope kepada media ini, (20/4) menjelaskan, ketika bencana alam menimpa beberapa desa di pulau Adonara, pengurus PGRI Cabang Wulanggitang melakukan konsolidasi secara internal untuk menggalang bantuan bagi korban bencana.

Ia menjelaskan, melalui group WhatsApp dibangun komunikasi dengan pengurus ranting dan kepala unit. Respon yang sangat baik diterima. Karena itu, kata Eduardus, pengurus cabang kemudian mengeluarkan surat pemberitahuan ke setiap unit melalui pengurus ranting untuk melakukan penggalangan dana di tingkat sekolah.

Baca juga :  Staf Ahli Gubernur NTT Minta Ruas Jalan Golowelu-Cancar Jadi Jalan Propinsi

“Setelah kita bangun komunikasi lewat group WA, pengurus cabang mengeluarkan surat untuk tiga ranting dan 43 unit agar menggalang dana di setiap satuan pendidikan, dan donasi yang berhasil dikumpulkan berupa uang, pakaian layak pakai dan beras,” ujar Eduardus

Menurutnya, penggalangan donasi dimulai sejak 06 – 17 April 2021. Hinga hari terakhir, bantuan yang terkumpul berupa uang sebesar Rp.13.709.000, pakaian layak pakai, dan beras. Dana yang terkumpul kemudian dibelanjakan barang-barang yang merupakan kebutuhan para korban.

Ia menambahkan, bantuan tersebut disalurkan kepada korban pada Minggu (18/04/2021) di lima titik bencana yaitu desa Oyangbaran, Waitukan, Nelelamadike, Nobo, dan Waiburak.

“Desa Oyangbaran, bantuan yang diberikan berupa lemari pakaian sebanyak 12 buah, dan sembako, Desa Waitukan bantuan berupa perlengkapan dapur, sembako, dan pakaian, Desa Nelelamadike bantuan berupa permainan anak-anak, sembako, dan pakaian, Desa Nobo bantuan berupa sembako dan pakaian. sedangkan Desa Waiburak berupa sembako dan pakaian,” jelas Eduardus

Baca juga :  Pegawai Capil Matim Diduga Paksa Masyarakat Kirim Berkas Secara Online

Ia juga mengatakan, Pengurus Cabang PGRI Wulanggitang membangun komunikasi dengan para relawan di lapangan untuk mendata kebutuhan para korban.

“Setelah semua donasi terkumpul, pengurus cabang membangun komunikasi dengan para relawan di lapangan untuk mendata kebutuhan para korban. Dari data yang diperoleh, kita mengetahui kebutuhan di setiap tempat sehingga langsung dibelanjakan barang-barang tersebut berupa lemari pakaian, permainan anak-anak, peralatan dapur, dan sembako,” ujar Eduardus

Bantuan tersebut diantar secara langsung oleh pengurus Cabang PGRI Wulanggitang bersama rombongan PGRI Kabupaten Flores Timur.

Kesempatan yang sama, Sekretaris II PGRI Cabang Wulanggitang, Emanuel Tupen Baran yang ikut mengantar donasi ke Adonara menjelaskan, rute perjalanan di mana rombongan start dari Boru pukul 06.00 Wita, menuju pelabuhan Larantuka, dari pelabuhan menyeberang ke pulau Adonara melalui pelabuhan Tobilota. Rombongan lalu menuju desa Oyangbaran, Waitukan, Nelelamadike, Nobo dan Waiburak.

Baca juga :  Staf Ahli Gubernur NTT Minta Ruas Jalan Golowelu-Cancar Jadi Jalan Propinsi

“Jam 06 pagi kita start dari Boru menggunakan mobil pick up yang memuat barang bantuan menuju Larantuka, di pelabuhan telah menanti rombongan PGRI Kabupaten Flotim untuk kemudian kami sama-sama menyeberang ke Adonara. Setelah menyerahkan donasi di Oyangbaran, Waitukan, Nelelamadike, Nobo dan Waiburak rombongan langsung kembali ke Boru dan tiba jam 11.00 malam,” ujar Eman.

Linus Lalun, wakil ketua PGRI cabang Wulanggitang menuturkan, walau bencana alam telah dua minggu berlalu, namun dukacita masih menyelimuti para korban, terutama mereka yang kehilangan sanak keluarga, apalagi hingga kini masih ada korban yang belum ditemukan.

“Di Oyangbaran kami sempat bertemu dengan seorang adik yang dimana bapaknya merupakan korban banjir yang hingga pada hari Minggu belum ditemukan. Mereka sangat membutuh dukungan, pendampingan dan hiburan agar tidak terlarut dalam duka yang mendalam,” ujar guru SMKN 1 Wulanggitang

Penulis: Belle Tube

Editor: Adi Jaya