Kisah Pelik

Karya: Gabriela Aprliliani


Cerpen, GardaNTT.id– Sulit untuk menunggu sesuatu yang kamu tahu mungkin itu tak akan pernah terjadi. Tetapi lebih sulit untuk menyerah ketika kamu tahu itu semua yang kau inginkan.

Namaku Niskala atau lebih akrab dipanggil Niska/Kala, nama yang cukup indah dari sang pemberi nama. Aku seorang remaja 17 tahun yang masih duduk dibangku SMA, yang pastinya sudah mengenal cinta-cintaan. Awalnya kupikir jatuh cinta itu sangat menyenangkan seperti dalam novel-novel yang aku baca. Selalu berjalan sesuai ekspetasi dengan akhir yang menyenangkan. Yah meskipun Sebagian besarnya saja, ada juga yang berkhir menyedihkan tetapi banyak bumbu-bumbu romantis di dalamnya.

Pagi hari yang sangat cerah aku terbangun dari tidur karena terusik silauan mentari pagi dari balik jendela yang ditutupi gorden tipis. Pagiku selalu berwarna dan menyenangkan, karena hal yang pertama kali aku lihat adalah pantulan wajahku dicermin. Alasan yang sangat gila sih menurut Sebagian orang, tetapi bagiku itu hal yang biasa. Bukan berarti wajahku terpahat sempurna, entah mengapa melihat pantulan wajah di cermin membuat aku semangat menjalani hari yang cukup Panjang.

Setelah selesai dengan tatap-menatap dengan cermin, aku bergegas ke kamar mandi dan memulai ritual mandi ku untuk bersiap-siap ke sekolah. Pukul 06.20 aku berangkat sekolah dengan mengendarai motor beat kesayanganku dengan kecepatan sedang karena berangkatnya selalu lebih cepat. Selain karena aku terbiasa disiplin, aku juga sebagai pengurus OSIS yang diwajibkan untuk hadir lebih awal dari teman-teman lain. Tak butuh waktu lama, aku sampai di sekolah dan memulai kegiatan sebelum masuk kelas yaitu doa bersama di lapangan. Aku dan beberapa teman OSIS lainnya bertugas mengkoordinir teman-teman agar selalu rapi dalam barisan dan mengikuti semua ritual sebelum masuk kelas.
“Astaga dia melihatku terus. Jangan-jangan perasaanku sudah terbalaskan.” Kataku kepada sahabatku yang berdiri di sebelahku.
“Semoga saja yah Niska” jawabnya sambil memberikan senyum khas orang Jawa.

Setiap hari aku selalu melihat dia dalam barisan. Namanya Aquino Alexandro. Dia selalu rapi dengan balutan seragam sekolah dan rambut yang tak pernah dibiarkan Panjang. Wajah yang terpahat sempurna dan postur tubuh yang menjadi kriteria semua perempuan di sekolahku. Apalagi dengan bawaannya yang tenang dan pastinya selalu juara umum di sekolahku. Hari-hariku di sekolah tidak pernah membosankan. Banyak sekali kisah-kisah menarik dan penuh kejutan setiap harinya. Sekolah membuat aku merasa hidup dan aku sadar bahwa aku ada. Bukan hanya karena banyak kegiatan yang aku ikuti di sekolah, sehingga membuat aku lumayan diakui. Tetapi cintaku yang bertepuk sebelah tangan sejak zaman purba. Aku meyebutnya zaman purba karena sudah hampir dua tahun. Perasaan itu membuat aku tersiksa karena tak akan mungkin bisa mengutarakannya. Apalagi melihat Aquino yang sangat mustahil bersanding denganku. Sehingga aku tenggelam dalam cinta yang rahasia atau cinta bodoh anak SMA.

Setiap kali netra kami bertaut dan saling melemparkan senyum, jantungku semakin bergejolak, tetapi di sisi hatiku tercabik-cabik karena terus memendam dan tak mengutarakan betapa aku mencintaimu. Setiap hari dia selalu menjadi tokoh utama dalam cerita hari-hariku. Ketika jam istirahat tiba, aku dikejutkan dengan panggilan dari seorang laki-laki dengan suara kas maskulin. Aku berbalik dan melihat bahwa itu Aquino. Dia menyodorkan dua novel yang aku lihat masih sangat baru, aku sangat bingung maksudnya.


“Tolong berikan ini pada Reina yah. Hadiah ulang tahunnya yang sudah lewat. Soalnya tadi pagi pas di barisan saja aku melihatnya”. Aquino berbicara dengan sangat lembu.
“Kamu dan Reina pacaran yah?” Tanyaku dengan suara yang dibuat ceria.
“Kenapa baru tanya sekarang Niskala. Kami pacaran sudah hampir lima bulan.”

Aku kaget dengan pernyataan Aquino barusan. Aku tak menyangka Reina setega itu. Setiap hari aku selalu curhat dengannya. Apa susahnya dia bilang padaku kalau dirinya dan Aquino ada hubungan, agar aku tidak terlihat seperti gadis bodoh. Aku sangat marah pada Reina dan ingin berteriak di depannya bahwa hatiku sangat hancur. Tetapi perlahan aku berpikir mungkin Aquino tak pantas jadi tokoh utama dalam kisahku.
Akankah ada? Biarlah waktu menjadi penentu dalam kisahku yang tak tentu.