Puisi-Puisi Oktaviana Mahu

Pergi

Tidak ada yang ingin tinggal meski hanya untuk mengecap kopi terakhir dari ibuku
Ini adalah cerita tentang kepergian
Lalu ada kecemasan setelah kehilangan
Tidak ada lagi berita yang membiarkan namamu kubaca sepenggal
Hanya sebuah koran lusuh di sudut ruang menangisi kepergianmu
Perlahan kubaca namamu pada sebaris tulisan hitam yang kusut
“Aku lupa jika pergi adalah meninggalkan dan tak pulang”.

Ibu

Aku ingin pulang ke rahim
Dunia sedang mempertontonkan kegilaanya dihadapanku
Aku tidak tertawa tapi aku sedang menangis
Untungnya tidak ada yang melihat dan membawakanku selembar tisu
Jika aku pulang nanti masihkah ibu mengenalku?
Dengan segala cacat yang dunia berikan
Aku tidak menyalahkannya aku hanya membiarkannya mengenalku
Ataukah aku harus lari bersama gilanya
Biar ibu tau aku adalah engkau dengan rahimmu.

Styles

Harry yang manis namamu hanyalah caraku mencintai dengan benar
Aku mengenalmu dari Tuhan pada suatu waktu yang tidak perlu kau lagukan
Tidak juga kupuisikan
Kata mereka aku gila karena harus berurusan dengan cinta yang aneh
Tapi kataku mereka yang gila karena mau berurusan dengan kegilaanku
Ibuku tidak pernah berceramah tentang cinta dihadapan nasi yang melingkar
Mungkin dia sudah mendengar sabda bahwa kita sejauh kenyataan
Namun aku tidak pernah lupa merayakan jatuh cinta


Di dalam kamarku berdua dengan Sign Of The Times yang bercerita tentang seorang ibu, bukan ibu kita
Hanya seorang perempuan dan aku perempuan maka aku seorang ibu
Lalu ayahku bercerita “Jatuh cintalah pada ibumu sebab ibu adalah cara mencintai yang yang tak putus asa”.

Penulis: Oktaviana Mahu | Mahasiswa PBSI UNIKA St. Paulus Ruteng Editor: Os